Senin, 01 September 2014

Konsep Gaya Kepemimpinan


Oleh Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
        Manusia dalam melihat suatu fakta akan berbeda antara yang satu dengan yang lain, hal ini disebabkan karena pengalaman-pengalaman pribadi dan kebutuhan yang berbeda-beda, yang menghasilkan tingkah laku yang yang berbeda-beda pula antara yang satu dengan yang lain dalam melaksanakan tugasnya. Dalam kondisi seperti ini bagi seorang pemimpin dituntut tidak hanya mengetahui  bagaimana tugas harus dikerjakan, apa yang membuat mereka  mengikuti atau membentuk  sikap-sikap tapi yang lebih penting  adalah sensitivitas mereka terhadap kebutuhan nyata dari masing-masing  bawahan, dengan alasan bahwa hanya bilamana seorang atasan mengerti setiap pegawai sebagai  satu  kebulatan sifat-sifat individualnya, suka dukanya, dorongan dan sasaran-sasarannya akan dapat menciptakan jenis kepemimpinan yang baik.
        Aktivitas-aktivitas pada suatu organisasi yang terbentuk dari orang-orang sebagai pelaksananya, tetapi tidak lepas dari pemisahan-pemisahan berdasarkan atas kelompok tugasnya. Konsekuensi dari bentukan seperti ini melahirkan fungsi penggerakan dari kepemimpinan yaitu fungsi pembibingan dan pemberiab pimpinan serta penggerakan orang-orang agar supaya mereka suka dan mau bekerja.
        Luas dan jangkauan yang mendalam dari kepemimpinan, telah mendudukkan faktor kepemimpinan ini sebagai bagian penting dari kegiatan manajemen, yang lingkupnya dapat dilihat dari dua aspek yaitu :
1). Aspek internal, identik dengan  ketata-lembagaan , yaitu tentang bagaimana keadaan organisasi, gerakannya, keadaannya, tuntutannya serta tujuan  organisasinya.
Dalam aspek ini yang harus diperhatikan  adalah :
-       Pandangan pemimpin terhadap organisasi harus menyeluruh;
-       Sebagai seorang pemimpin harus cepat, tepat  dan teges dalam mengambil keputusan;
-       Harus pandai mendelegasikan wewenang kepada bawahan;
-       Harus cakap dan dapat memperoleh dukungan dari para bawahan.
2).   Aspek external atau aspek politik
Seorang pemimpin harus mampu melihat perkembangan situasi masyarakat yang ada  di luar lingkungan organisasi.
       Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain adalah karakter yang  harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, tetapi kemampuan tersebut hanyalah satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi terciptanya seorang pemimpin  yang baik, mengingat bahwa peranannya dalam  membimbing dan menggerakkan pegawai hanyalah salah satu dari tugas-tugasnya, karena ia juga harus membuat rencana, mengevaluasi tugas-tugas, mewakili organisasi dalam hubungaannya dengan orang luar dan sebagainya.
       Dari kesimpulan di atas terlihat bahwa seorang pemimpin juga harus mempunyai kemampuan administrasi dan penguasaan teknis yang berkaitan dengan tugas-tugasnya, sebaik kemampuan yanng dimilikinya dalam mempengaruhi para bawahan.
       Gaya Kepemimpinan secara umum lebih mudah diartikan sebagai pengaruh , seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka dengan suka rela akan mudah diarahkan pada pencapaian  tujuan bersama.
       Gaya Kepemimpinan sebagai proses sosial diartikan sebagai upaya atau cara mempengaruhi bawahan agar bertingkah laku sedemikian rupa , sehingga  sebagai pemimpin ia punya legitimasi dalam  mempengaruhi para bawahannya agar bekerja secara suka rela, dimana didalamnya terjadi proses pendewasaan  bawahan, dengan tujuan bahwa kerja sama yang dibinanya akan berjalandengan baik sesuai dengan tingkat kedewasaan para bawahannya.
George Strause dan Sayles lebuh khusus lagi menjelaskan bahwa ada faktor-faktor pendukung yang mendukung agar kepemimpinan dapat melakukan fungsinya dengan baik yaitu:
1.     Kepribasian dan latar belakang pemimpin. Pemimpin yang berasal dari luar organisasi akan lebih banyak menjaga jarak sosial dengan bawahan barunya.
2.     Kepribadian dan latar belakang bawahan. Harapan-harapan yang dibawa para pegawai kedalam organisasi berbeda satu sama lain lainya.
3.     Bentuk tugas atau pekerjaan.  Bentuk-bentuk tugas menentukan type kepemimpinan yang paling efektif.
4.     Pentingnya pencapaian hasil. Penekanan terhadap pentingnya pencapaian tujuan, menuntut adanya cara kepemimpinan yang khas. (Strausus dan Sayles, 1977:196)

Pemimpin yang sensitif akan memperhatikan faktor-faktor ini sebelum menentukan untuk bertingkah laku dalam situasi tertentu. Bertolak dari uraian-uraian tersebut diatas bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dipergunakan untuk memperoleh kepemimpinan yang efektif, dengan tetap berlandaskan pada konsistensi dari pengertian dan konsep yang sama bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang lain sehingga dengan sukarela akan mengarahkan mereka pada pencapaian tujuan bersama. Ada beberapa pendekatan yang dapat dipergunakan untuk memperoleh pengertian terhadap konsep kepemimpinan yang efektif, yaitu
a.     Pendekatan Sikap ( yang dimiliki pimpinan)
     Adanya anggapan bahwa para pemimpin mempunyai sikap atau sifat-sifat tertentu, yang menyebabkan mereka mampu mempengaruhi masa atau orang lain. Sikap atau sifat-sifat ini merupakan batas nyata dalam membentuk sikap pemimpin, tetapi sering kita temui bahwa  kejadian-kejadian dimana mereka memperoleh seksesnya, berbeda antara satu dengan yang lainya, seperti kemiliteran berbeda dengan situasi lain seperti rumah sakit, universitas dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun sikap atau sifat yang diharapkan ada pada seorang  pemimpin, tampaknya hal ini bukan faktor yang mutlak.
b.     Pendekatan Tingkah Laku.
     Seperti disebutkan pada pendekatan pertama yang menunjukan sikap-sikap dan sifat-sifat sebagai dasar bagi kepemimpinan yang efektif. Pendekatan ini melihat bahwa hal-hal tersebut bukan merupakan faktor yang mutlak dengan alasan bahwa bila perhatian kita alihkan pada apa yang dikerjakan pimpinan             (berlawanan dengan sikap hakikinya), kita beranggapan bahwa hal itu adalah cara terbaik untuk memimpin. Pada saat sikap – sikap ini cukup mapan, tingkah laku ini dapat dipelajari dengan demikian pemimpin tidak hanya “berbakat lahir”  tetapi mereka dapat dicipta. Pendekatan tingkah laku menekankan pada dua fungsi utama dari kepemimpinan yaitu arah dari pekerjaan tugas dan dukungan psikologis. Perbedaan ini mengakibatkan timbulnya pendapat yang berbed dari keduanya, disatu pihak kepemimpinan sebagai suatu proses untuk menjaga hubungan sosial dalam satu unit kerja organisasi , sementara yang lain membawa pelaksanaan tugas unit ini pada beberapa tingkat penerimaan.
c.     Pendekatan Kontinguisi
     Pokok dari pendekatan kontinguensi adalah menguraikan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi kepemimpinan yang efektif dan salah satu pendukung dari pendekatan ini adalah Fiedler, dengan model kontinguensinya. Menurut Fiedler seorang pemimpin yang efektif adalah orang yang mampu untuk merubah elemen-elemen dari situasi, menuju pada efek yang diharapkan dalam melaksanakan tugasnya.
Bertolak dari ketiga pendekatan di atas, maka pendekatan yang cukup relevan dengan penulisan ini adalah pendekatan kontinguensi. Pendekatan kontinguensi sebagai suatu penjabaran faktor-faktor situasional yang mempengaruhi Gaya kepemimpinan yang efektif dan menetapkan Gaya Kepemimpinan yang sangat efektif pada kondisi dari kombinasi faktor-faktor situasi.
       a. Gaya Kepemimpinan Outoriter
       Pemimpin seperti ini melakukan segala sesuatu pekerjaan berdasarkan paksaan atau secara kekuasaan mutlak. Artinya segala sesuatu keputusan ditangan satu orang saja , karena menganggap dirinya paling banyak tahu (super) dari pihak lainya. Setiap keputusan sang pemimpin harus dianggap sah dan pegawai atau bawahan uang dipimpinya hanya menerima saja, tanpa dapat berbuat sesuatu apapun juga. Dengan kata lain, sang pemimpin  memaksa masyarakat yang dipimpinnya untuk  melakukan kehendak (kebijakan) nya. Untuk mencapai tujuannya sang pemimpin tidak segan menginjak-injak hak asasi manusia, selalu mencari kambing hitam (scape goatisme), sikap  apatis dan menggunakan kekerasan atau tangan besi demi mencapai tujuannya.
       Gaya kepemimpianan  diktator, otoriter, totaliter dan tirani. Baik gaya diktaktor, otoriter,  totaliter dan tirani jika untuk memenuhi kehendaknya sang pemimpin tidak segan-segan mengesampingkan konstitusi dan menghalalkan segala macam cara  demi tercapainya tujuan. Hubungan antara sang pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya pada umumnya dilakukan pada saat sang pemimpin memberikan instruksi  dan perintah. Sang pemimpin selalu mengisolir dirinya dari masyarakat yang dipimpinnya. Perembukan atau musyawarah jarang sekali dilakukan kalau tidak mau disebutkan sama sekali tidak pernah dilakukan. Tegasnya sang pemimpin menentukan segala-galanya baik mengenai aktivitas, kebijakan dan sebagainya sedangkan masyarakat yang dipimpinnya hanya menerima instruksi , pemberitahuan, tugas serta perintah yang harus dikerjakan, tanpa boleh membantah.
       Gaya kepemimpinan diktaktor adakalanya dibutuhkan pada saat tertentu, misalnya dalam keadaan darurat (gawat) sudah tentu dibutuhkan pemimpin yang kuat (strong leader). Ini sesuai yang ditulis Drs. Onong Uchjana Effendy, MA :
    Berdasarkan eksperimennya itu, Branca berkesimpulan bahwa kepemimpinan otoriter mungkin paling baik untuk suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan cepat. Di situ diperlukan pemimpin yang kuat (strong leader) tetapi cara kepemimpinannya itu hanya untuk  keadaan darurat saja, begitu keadaan sudah biasa lagi (normal-pen), cara kepemimpinan itu harus segera dihentikan.” (Effendy, 1981 : 30)
Pemimpin seperti ini biasanya penganut “double standart” rumusnya Nicoole Machiavelli. Didalam bukunya yang berjudul “The Prince”  Machiavelli mengajukan kepada raja Florencia bahwa penguasa dapat menggunaka  segala cara untuk mencapai tujuannya sedangkan rakyat harus tetap patuh. Sang pemimpin seperti ini ada kalanya juga berprinsip “ Negara adalah saya”   (L’tat e’est moi) seperti yang diucapkan raja Perancis Louis XIV, tanggal 15 April 1655 yang memegang kekuasaan absolute monarchie ketika itu. Tegasnya pemimpin sejenis ini, tidak memmberikan semangat demokrasi dan kebebasan berpendapat untuk dinikmati masyarakat yang dipimpinnya.Contoh kepemimpinan gaya diktaktor antara lain Hitler, Benito Musolini, Idi Amin, Bokassa, Zia Ul Haq, Ferdinand Marcos, Jean Claude Duvailer (Baby Dog), Chun Doo-Hwan dan Francissco Franco.
       b.  Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin jenis ini dianggap adalah yang paling terbaik, karena selalu melakukan segala sesuatunya sesuai kehendak masyarakat banyak.Artinya sang pemimpin melakukan kebijakan tidak cukup ngomong, tetapi berdasarkan konstitusi yang telah disepakati bersama, bukan berdasarkan kemauan sendiri atau berdasarkan kekuatan (kekerasan).Dengan kata lain sang pemimpin beruisaha semaksimal mungkin tidak menggunakan kekerasan, tetapi memenuhi “aturan  main” yang berlaku dan tidak menyeleweng dari kehendak masyarakat yang dipimpinnya. Ia berprinsip kepentingan rakyat dan konstitusi di atas segala-galanya.
Dalam Gaya Kepemimpinan Demokratis terlihat rasa kekeluargaan sangat dipelihara. Disana dapat dilihat hubungan baik antara pemimpin dengan bawahanya, hubungan  baik antar sesama pegawai sehungga pergaulan sangat harmonis serta tidak ada yang merasa tertekan. Gaya Kemimpinan Demikratis biasanya memerlukan kemampuan dan keterampilan berkomonikasi dan bersikap persuasif. Tegasnya seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya selalu menyertakan bawahan dan memecahkan permasalahan setelah mendengarkan saran dan pendapat bawahanya.
       c.  Gaya Kepemimpinan Paternalistik
Gaya Kepemimpinan ini cenderung bersifat kebapakan yang mengutamakan contoh, dan suritauladan yang harus diikuti dan dipatuhi oleh seluruh bawahanya. Dalam Gaya Kepemimpinan ini penghormatan menjadi hal yang utama, layaknya seorang anak kepada orang tuanya. Gaya kepemimpinan Paternalistik  tidak jauh berbeda dengan Gaya Kepemimpinan Otoriter, yang setiap perintah harus dituruti dan dilaksanakan. Hanya saja perbedaanya terletak pada konsep kepatuhanya dimana dalam Gaya Kepemimpinan Paternalistik ini  bawahan melaksanakan setiap tugas dan perintah bukan karena takut terhadap ancaman hukuman seperti dalam kepemimpinan otoriter melainkan lebih karena rasa hormat dan menghargai atasanya.
Gaya kepemimpinan Paternalistik  juga mempunyai kesamaan dengan Gaya Kepemimpinan Demokratis yaitu dalam hal penghargaan dan kasih sayang kepada bawahanya. Dengan kata lain Gaya kepemimpinan Paternalistik ini dalam pelaksanaanya mengalami dua kecenderungan baik Otoriter maupun Demikratis. Namun demikian Gaya Kepemimpinan ini lebih condong kepada Gaya kepemimpinan Otoriter hanya saja dalam pelaksanaanya lebih halus.
       d.  Gaya Kemimpinan Laiser Faire
Pemimpin dengan gaya ini selalu memberikan kebebasan yang tak terbatas kepada bawahanya atau pegawainya. Artinya seorang pemimpin selalu memberikan dan memenuhi hal-hal yang diperlukan oleh bawahanya dan kemudian ia cukup melihat hasil dari yang dilakukan oleh bawahanya tersebut tanpa ada saran  dan pendapat serta arahan. Gaya Kepemimpinan ini sangat berbahaya karena bawahan yang dipimpinya menjadi terlampau bebas sehungga disiplin tidak dapat dijamin dan tidak terkendalikan.
Walaupun Gaya Kepemimpinan Laiser Faire ini lebih banyak kelemahanya namun ada hal positif yang dapat diambil yaitu essensi dasar gaya kepemimpinan ini adalah pendelegasian menejerial dengan harapan bahwa bawahan dapat lebih leluasa dalam berinisiatif dan berinovasi serta mampu berimprofisasi terhadap segala resiko yang akan dihadapi sehingga bawahan lebih dapat mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah diperbuatnya.

1 komentar:

  1. How to build your own custom bamboo set - Tantric Art
    For your bamboo set titanium rings for women - trekz titanium pairing Tantric Art. When you babyliss nano titanium buy a set of Tantric Art for your t fal titanium home, you can titanium mens rings start building your own Your first purchase in our house?

    BalasHapus