Oleh Dr. H.
Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
Manusia
dalam melihat suatu fakta akan berbeda antara yang satu dengan yang lain, hal
ini disebabkan karena pengalaman-pengalaman pribadi dan kebutuhan yang
berbeda-beda, yang menghasilkan tingkah laku yang yang berbeda-beda pula antara
yang satu dengan yang lain dalam melaksanakan tugasnya. Dalam kondisi seperti
ini bagi seorang pemimpin dituntut tidak hanya mengetahui bagaimana tugas harus dikerjakan, apa yang
membuat mereka mengikuti atau
membentuk sikap-sikap tapi yang lebih
penting adalah sensitivitas mereka
terhadap kebutuhan nyata dari masing-masing
bawahan, dengan alasan bahwa hanya bilamana seorang atasan mengerti
setiap pegawai sebagai satu kebulatan sifat-sifat individualnya, suka
dukanya, dorongan dan sasaran-sasarannya akan dapat menciptakan jenis
kepemimpinan yang baik.
Aktivitas-aktivitas
pada suatu organisasi yang terbentuk dari orang-orang sebagai pelaksananya,
tetapi tidak lepas dari pemisahan-pemisahan berdasarkan atas kelompok tugasnya.
Konsekuensi dari bentukan seperti ini melahirkan fungsi penggerakan dari
kepemimpinan yaitu fungsi pembibingan dan pemberiab pimpinan serta penggerakan
orang-orang agar supaya mereka suka dan mau bekerja.
Luas dan
jangkauan yang mendalam dari kepemimpinan, telah mendudukkan faktor
kepemimpinan ini sebagai bagian penting dari kegiatan manajemen, yang
lingkupnya dapat dilihat dari dua aspek yaitu :
1).
Aspek internal, identik dengan
ketata-lembagaan , yaitu tentang bagaimana keadaan organisasi,
gerakannya, keadaannya, tuntutannya serta tujuan organisasinya.
Dalam
aspek ini yang harus diperhatikan adalah
:
-
Pandangan
pemimpin terhadap organisasi harus menyeluruh;
-
Sebagai
seorang pemimpin harus cepat, tepat dan
teges dalam mengambil keputusan;
-
Harus
pandai mendelegasikan wewenang kepada bawahan;
-
Harus
cakap dan dapat memperoleh dukungan dari para bawahan.
2). Aspek external atau aspek politik
Seorang pemimpin harus
mampu melihat perkembangan situasi masyarakat yang ada di luar lingkungan organisasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain adalah karakter
yang harus dipenuhi oleh seorang
pemimpin, tetapi kemampuan tersebut hanyalah satu dari sekian banyak faktor
yang mempengaruhi terciptanya seorang pemimpin
yang baik, mengingat bahwa peranannya dalam membimbing dan menggerakkan pegawai hanyalah
salah satu dari tugas-tugasnya, karena ia juga harus membuat rencana,
mengevaluasi tugas-tugas, mewakili organisasi dalam hubungaannya dengan orang
luar dan sebagainya.
Dari kesimpulan di atas terlihat bahwa
seorang pemimpin juga harus mempunyai kemampuan administrasi dan penguasaan
teknis yang berkaitan dengan tugas-tugasnya, sebaik kemampuan yanng dimilikinya
dalam mempengaruhi para bawahan.
Gaya Kepemimpinan secara umum lebih mudah
diartikan sebagai pengaruh , seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga
mereka dengan suka rela akan mudah diarahkan pada pencapaian tujuan bersama.
Gaya Kepemimpinan sebagai proses sosial
diartikan sebagai upaya atau cara mempengaruhi bawahan agar bertingkah laku
sedemikian rupa , sehingga sebagai
pemimpin ia punya legitimasi dalam
mempengaruhi para bawahannya agar bekerja secara suka rela, dimana
didalamnya terjadi proses pendewasaan
bawahan, dengan tujuan bahwa kerja sama yang dibinanya akan
berjalandengan baik sesuai dengan tingkat kedewasaan para bawahannya.
George Strause dan Sayles
lebuh khusus lagi menjelaskan bahwa ada faktor-faktor pendukung yang mendukung
agar kepemimpinan dapat melakukan fungsinya dengan baik yaitu:
1.
Kepribasian dan latar
belakang pemimpin. Pemimpin yang berasal dari luar organisasi akan lebih banyak
menjaga jarak sosial dengan bawahan barunya.
2.
Kepribadian dan latar
belakang bawahan. Harapan-harapan yang dibawa para pegawai kedalam organisasi
berbeda satu sama lain lainya.
3.
Bentuk tugas atau
pekerjaan. Bentuk-bentuk tugas
menentukan type kepemimpinan yang paling efektif.
4.
Pentingnya pencapaian
hasil. Penekanan terhadap pentingnya pencapaian tujuan, menuntut adanya cara
kepemimpinan yang khas. (Strausus dan Sayles, 1977:196)
Pemimpin yang sensitif akan memperhatikan faktor-faktor ini sebelum
menentukan untuk bertingkah laku dalam situasi tertentu. Bertolak dari
uraian-uraian tersebut diatas bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat
dipergunakan untuk memperoleh kepemimpinan yang efektif, dengan tetap
berlandaskan pada konsistensi dari pengertian dan konsep yang sama bahwa
kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang lain sehingga dengan
sukarela akan mengarahkan mereka pada pencapaian tujuan bersama. Ada beberapa pendekatan
yang dapat dipergunakan untuk memperoleh pengertian terhadap konsep
kepemimpinan yang efektif, yaitu
a. Pendekatan Sikap ( yang
dimiliki pimpinan)
Adanya anggapan bahwa para pemimpin
mempunyai sikap atau sifat-sifat tertentu, yang menyebabkan mereka mampu
mempengaruhi masa atau orang lain. Sikap atau sifat-sifat ini merupakan batas
nyata dalam membentuk sikap pemimpin, tetapi sering kita temui bahwa kejadian-kejadian dimana mereka memperoleh
seksesnya, berbeda antara satu dengan yang lainya, seperti kemiliteran berbeda
dengan situasi lain seperti rumah sakit, universitas dan sebagainya. Dari
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun sikap atau sifat yang diharapkan
ada pada seorang pemimpin, tampaknya hal
ini bukan faktor yang mutlak.
b. Pendekatan Tingkah Laku.
Seperti disebutkan pada pendekatan pertama
yang menunjukan sikap-sikap dan sifat-sifat sebagai dasar bagi kepemimpinan
yang efektif. Pendekatan ini melihat bahwa hal-hal tersebut bukan merupakan
faktor yang mutlak dengan alasan bahwa bila perhatian kita alihkan pada apa
yang dikerjakan pimpinan
(berlawanan dengan sikap hakikinya), kita beranggapan bahwa hal itu
adalah cara terbaik untuk memimpin. Pada saat sikap – sikap ini cukup mapan,
tingkah laku ini dapat dipelajari dengan demikian pemimpin tidak hanya “berbakat
lahir” tetapi mereka dapat
dicipta. Pendekatan tingkah laku menekankan pada dua fungsi utama dari
kepemimpinan yaitu arah dari pekerjaan tugas dan dukungan psikologis. Perbedaan
ini mengakibatkan timbulnya pendapat yang berbed dari keduanya, disatu pihak
kepemimpinan sebagai suatu proses untuk menjaga hubungan sosial dalam satu unit
kerja organisasi , sementara yang lain membawa pelaksanaan tugas unit ini pada
beberapa tingkat penerimaan.
c. Pendekatan Kontinguisi
Pokok dari pendekatan kontinguensi adalah
menguraikan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi kepemimpinan yang
efektif dan salah satu pendukung dari pendekatan ini adalah Fiedler, dengan
model kontinguensinya. Menurut Fiedler seorang pemimpin yang efektif adalah
orang yang mampu untuk merubah elemen-elemen dari situasi, menuju pada efek
yang diharapkan dalam melaksanakan tugasnya.
Bertolak dari ketiga
pendekatan di atas, maka pendekatan yang cukup relevan dengan penulisan ini
adalah pendekatan kontinguensi. Pendekatan kontinguensi sebagai suatu
penjabaran faktor-faktor situasional yang mempengaruhi Gaya kepemimpinan yang efektif dan menetapkan
Gaya Kepemimpinan yang sangat efektif pada kondisi dari kombinasi faktor-faktor
situasi.
a. Gaya
Kepemimpinan Outoriter
Pemimpin seperti ini melakukan segala
sesuatu pekerjaan berdasarkan paksaan atau secara kekuasaan mutlak. Artinya
segala sesuatu keputusan ditangan satu orang saja , karena menganggap dirinya
paling banyak tahu (super) dari pihak lainya. Setiap keputusan sang pemimpin
harus dianggap sah dan pegawai atau bawahan uang dipimpinya hanya menerima
saja, tanpa dapat berbuat sesuatu apapun juga. Dengan kata lain, sang
pemimpin memaksa masyarakat yang
dipimpinnya untuk melakukan kehendak
(kebijakan) nya. Untuk mencapai tujuannya sang pemimpin tidak segan
menginjak-injak hak asasi manusia, selalu mencari kambing hitam (scape
goatisme), sikap apatis dan menggunakan
kekerasan atau tangan besi demi mencapai tujuannya.
Gaya
kepemimpianan diktator, otoriter,
totaliter dan tirani. Baik gaya
diktaktor, otoriter, totaliter dan
tirani jika untuk memenuhi kehendaknya sang pemimpin tidak segan-segan
mengesampingkan konstitusi dan menghalalkan segala macam cara demi tercapainya tujuan. Hubungan antara sang
pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya pada umumnya dilakukan pada saat
sang pemimpin memberikan instruksi dan
perintah. Sang pemimpin selalu mengisolir dirinya dari masyarakat yang
dipimpinnya. Perembukan atau musyawarah jarang sekali dilakukan kalau tidak mau
disebutkan sama sekali tidak pernah dilakukan. Tegasnya sang pemimpin
menentukan segala-galanya baik mengenai aktivitas, kebijakan dan sebagainya
sedangkan masyarakat yang dipimpinnya hanya menerima instruksi , pemberitahuan,
tugas serta perintah yang harus dikerjakan, tanpa boleh membantah.
Gaya
kepemimpinan diktaktor adakalanya dibutuhkan pada saat tertentu, misalnya dalam
keadaan darurat (gawat) sudah tentu dibutuhkan pemimpin yang kuat (strong
leader). Ini sesuai yang ditulis Drs. Onong Uchjana Effendy, MA :
“Berdasarkan eksperimennya itu, Branca
berkesimpulan bahwa kepemimpinan otoriter mungkin paling baik untuk suatu
pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan cepat. Di situ diperlukan pemimpin
yang kuat (strong leader) tetapi cara kepemimpinannya itu hanya untuk keadaan darurat saja, begitu keadaan sudah
biasa lagi (normal-pen), cara kepemimpinan itu harus segera dihentikan.”
(Effendy, 1981 : 30)
Pemimpin
seperti ini biasanya penganut “double standart” rumusnya Nicoole Machiavelli.
Didalam bukunya yang berjudul “The Prince”
Machiavelli mengajukan kepada raja Florencia bahwa penguasa dapat
menggunaka segala cara untuk mencapai
tujuannya sedangkan rakyat harus tetap patuh. Sang pemimpin seperti ini ada
kalanya juga berprinsip “ Negara adalah saya”
(L’tat e’est moi) seperti yang diucapkan raja Perancis Louis XIV,
tanggal 15 April 1655 yang memegang kekuasaan absolute monarchie ketika itu.
Tegasnya pemimpin sejenis ini, tidak memmberikan semangat demokrasi dan
kebebasan berpendapat untuk dinikmati masyarakat yang dipimpinnya.Contoh
kepemimpinan gaya diktaktor antara lain Hitler, Benito Musolini, Idi Amin,
Bokassa, Zia Ul Haq, Ferdinand Marcos, Jean Claude Duvailer (Baby Dog), Chun
Doo-Hwan dan Francissco Franco.
b. Gaya
Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin
jenis ini dianggap adalah yang paling terbaik, karena selalu melakukan segala
sesuatunya sesuai kehendak masyarakat banyak.Artinya sang pemimpin melakukan
kebijakan tidak cukup ngomong, tetapi berdasarkan konstitusi yang telah
disepakati bersama, bukan berdasarkan kemauan sendiri atau berdasarkan kekuatan
(kekerasan).Dengan kata lain sang pemimpin beruisaha semaksimal mungkin tidak
menggunakan kekerasan, tetapi memenuhi “aturan
main” yang berlaku dan tidak menyeleweng dari kehendak masyarakat yang
dipimpinnya. Ia berprinsip kepentingan rakyat dan konstitusi di atas
segala-galanya.
Dalam
Gaya Kepemimpinan Demokratis terlihat rasa kekeluargaan sangat dipelihara.
Disana dapat dilihat hubungan baik antara pemimpin dengan bawahanya,
hubungan baik antar sesama pegawai
sehungga pergaulan sangat harmonis serta tidak ada yang merasa tertekan. Gaya
Kemimpinan Demikratis biasanya memerlukan kemampuan dan keterampilan
berkomonikasi dan bersikap persuasif. Tegasnya seorang pemimpin dalam
menjalankan tugasnya selalu menyertakan bawahan dan memecahkan permasalahan
setelah mendengarkan saran dan pendapat bawahanya.
c. Gaya
Kepemimpinan Paternalistik
Gaya
Kepemimpinan ini cenderung bersifat kebapakan yang mengutamakan contoh, dan
suritauladan yang harus diikuti dan dipatuhi oleh seluruh bawahanya. Dalam Gaya
Kepemimpinan ini penghormatan menjadi hal yang utama, layaknya seorang anak kepada
orang tuanya. Gaya
kepemimpinan Paternalistik tidak jauh
berbeda dengan Gaya Kepemimpinan Otoriter, yang setiap perintah harus dituruti
dan dilaksanakan. Hanya saja perbedaanya terletak pada konsep kepatuhanya
dimana dalam Gaya Kepemimpinan Paternalistik ini bawahan melaksanakan setiap tugas dan
perintah bukan karena takut terhadap ancaman hukuman seperti dalam kepemimpinan
otoriter melainkan lebih karena rasa hormat dan menghargai atasanya.
Gaya kepemimpinan
Paternalistik juga mempunyai kesamaan
dengan Gaya Kepemimpinan Demokratis yaitu dalam hal penghargaan dan kasih
sayang kepada bawahanya. Dengan kata lain Gaya
kepemimpinan Paternalistik ini dalam pelaksanaanya mengalami dua kecenderungan
baik Otoriter maupun Demikratis. Namun demikian Gaya Kepemimpinan ini lebih
condong kepada Gaya
kepemimpinan Otoriter hanya saja dalam pelaksanaanya lebih halus.
d. Gaya
Kemimpinan Laiser Faire
Pemimpin
dengan gaya ini
selalu memberikan kebebasan yang tak terbatas kepada bawahanya atau pegawainya.
Artinya seorang pemimpin selalu memberikan dan memenuhi hal-hal yang diperlukan
oleh bawahanya dan kemudian ia cukup melihat hasil dari yang dilakukan oleh
bawahanya tersebut tanpa ada saran dan
pendapat serta arahan. Gaya Kepemimpinan ini sangat berbahaya karena bawahan
yang dipimpinya menjadi terlampau bebas sehungga disiplin tidak dapat dijamin
dan tidak terkendalikan.
Walaupun
Gaya Kepemimpinan Laiser Faire ini lebih banyak kelemahanya namun ada hal
positif yang dapat diambil yaitu essensi dasar gaya kepemimpinan ini adalah pendelegasian menejerial dengan harapan
bahwa bawahan dapat lebih leluasa dalam berinisiatif
dan berinovasi serta mampu berimprofisasi terhadap segala resiko
yang akan dihadapi sehingga bawahan lebih dapat mempertanggungjawabkan terhadap
apa yang telah diperbuatnya.
How to build your own custom bamboo set - Tantric Art
BalasHapusFor your bamboo set titanium rings for women - trekz titanium pairing Tantric Art. When you babyliss nano titanium buy a set of Tantric Art for your t fal titanium home, you can titanium mens rings start building your own Your first purchase in our house?