Selasa, 30 September 2014

SIKAP MANUSIA DALAM PERUBAHAN



oleh : Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si

Berawal dari firman Allah dalam Alquran (surat al Ra’d 13:11) yang artinya bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. DarI Firman Allah Ta’ala tersebut meyakinkan bagi kita umat manusia untuk selalu melakukan usaha perubahan agar kehidupan kita menjadi lebih baik. Bagi manusia tidak mungkin menghindari dari proses perubahan itu sendiri. Mulai dari lahirnya manusia sampai dengan ajal menjemputnya maka proses perubahan itu terjadi. Dengan demikian kejadian demi kejadian tidak ada yang terlewatkan bagi manusia untuk menjadikan perubahan sebagai bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Persoalannya yang muncul kemudian pada saat tertentu manusia nampaknya enggan mengalami perubahan bahkan menghindari perubahan itu sendiri dikarenkan kondisi manusia sudah lupa atau terlupakan dengan kenikmatan hidup yang membuat manusia terbuai seolah – olah mereka akan hidup selama-lamanya.
Bagi manusia yang beriman dan berakal wajib meyakini bahwa fase perubahan dengan bentuk apapun pasti akan terjadi dengan pola atau bentuk yang mungkin kita sudah ketahui atau bahwakan kita tidak ketahui karena hak Allah ta’ala sebagai sang pencipta yang mewujudkan perubahan itu hadir dalam diri kita dan bisa kira rasakan. Oleh karena itu dua hal yang manusia harus lakukan dalam menyikapi perubahan yaitu pertama, bersyukur dalam kenikmatan yang diberikan oleh Allah Ta’ala.  Bersyukur itu terbagi menjadi tiga bagian, yang diantaranya bersyukur dengan lisan, maksudnya ialah mengakui segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah SWT. dengan sikap merendahkan diri. bersyukur dengan badan, yakni Bersikap selalu sepakat serta melayani (mengabdi) kepada Allah SWT. bersyukur dengan hati, yaitu : Mengasingkan diri di hadapan Allah SWT. dengan cara konsisten menjaga akan keagungan Allah SWT. Sesuai dengan firman Allah “Mengapa Allah akan menyiksamu. Jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Syukur lagi Maha Mengetahui”. (Surat An-Nisa’;04:147). Secara gamblang ayat tersebut menyatakan bahwa Allah tidak akan menyiksa hamba Nya yang bersyukur dan beriman. Kemudian firman Allah Ta’ala menyatakan “Dan ingatlah juga tatkala Tuhan-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim; 14 : 7). Dalam ayat diatas, Allah menyatakan pasti akan menambah nikmat apabila hambaNya bersyukur.  Janji Allah tersebut diatas  dikuatkan dengan kata kata ”pasti”, dan tidak ada syarat apapun setelahnya. Artinya, secara absolut orang orang yang bersyukur akan diberi oleh Allah tambahan nikmatnya. Pernyataan dalam ayat tersebut diatas diperkuat lagi dengan ayat lain yang menyatakan bahwa syukur seorang hamba itu adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan Allah sama sekali tidak memerlukan syukur itu: hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Luqman;  31 : 12). alasan bagi hamba yang bersyukur itu mutlak, tanpa batasan dan tanpa syarat. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam  akhir ayat 145 Surat Ali Imran: Dan Kami akan memberi balasan kepada orang orang yang bersyukur (Ali Imran; 03 : 145).
Kemudian yang kedua yang harus dilakukan oleh manusia dalam kaitannya dengan perubahan adalah sabar dalam segala ujian yang Allah Ta’ala berikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At Taghaabun [64]: 11). Dalam tafsir, Ibn Katsir menjelaskan bahwa siapa saja yang ditimpa musibah kemudian dia menyadari bahwa hal itu terjadi atas qadha’ dan takdir Allah, lalu dia bersabar dan mengharapkan balasan pahala atas kesabarannya, serta menerima keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah terhadap dirinya, maka Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya dan akan menggantikan apa yang telah hilang dari dirinya di dunia dengan petunjuk dan keyakinan di dalam hatinya. Lanjut Ibn Katsir, kadangkala Allah akan mengganti sesuatu yang diambil dari hamba-Nya dengan sesuatu yang sama nilainya. Kadangkala Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih baik. Menurut Ali bin Abi Thalhah, ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa Allah akan memberi petunjuk di dalam hatinya untuk benar-benar yakin, sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya itu tidaklah untuk menyalahkannya.
Kedua hal diatas yaitu syukur dan sabar merupakan kata kunci bagi setiap manusia dalam bersikap menghadapi dan merasakan hadirnya perubahan. Jadi mari kita menerima perubahan dengan syukur dan sabar insya Allah ada hikmah yang terkandung didalamnya.
Semoga bermanfaat Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar