Rabu, 17 September 2014

JALAN PANJANG MENUJU PERUBAHAN




Oleh : Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si

Kisah orang – orang sukses dalam menapak perubahan di berbagai bidang nampaknya menjadi guru yang sangat bijak dan menjadi penyemangat dikala kita sedang gundah dalam menjalankan niat suci untuk melakukan perubahan, akan tetapi nampaknya tidak seindah impian dihati untuk menggapai misi suci ini hanya kesabaran yang menjadi tuntutan kita untuk mencapai batas akhir  dalam sebuah perubahan menuju arah yang lebih baik.  Demikian juga untuk menggapai kesuksesan. Kesabaran adalah kunci dan fondasi untuk membangun kesuksesan. Jika Anda dicemoohkan orang, mendapatkan penolakan, menghadapi banyak rintangan atau belum memperoleh hasil signifikan dari kerja keras Anda selama ini, bersabarlah. Sebelum menjadi orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, Bill Gates selama bertahun-tahun menerima pendapatan dari software ciptaannya hanya $2 per hari. Nilai yang lebih rendah dari gaji seorang pegawai rendahan sekalipun di Amerika. Tapi Bill Gates tetap sabar dan yakin dalam menjalankan bisnisnya. Demikian juga J.K Rowling, penulis laris buku Harry Potter yang sangat mendunia. Sebelum sebuah penerbit kecil di Inggris, Bloomsbury menerbitkan novel Harry Potter, J.K Rowling  menghadapi 12 kali penolakan terhadap manuskripnya. Seandainya J.K Rowling menyerah dan tidak sabar dalam menghadapi 12 penolakan tersebut, kita tidak pernah membaca hasil karyanya menakjubkan itu dan iapun tidak sesukses seperti sekarang ini.  
Bila Perubahan menuju kesuksesan menuntut kita untuk memulai pekerjaan besar yaitu berusaha tetap konsisten untuk melakukan berbagai langkah dan upaya untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan maka ada tiga hal penting untuk kita pegang erat dan kita jaga agar tiga hal ini selalu mengiri kita dalam menapak jalan panjang menuju perubahan, ketiga tersebut antara lain :
1.   Istiqomah / Konsisten dalam menjalankan Perubahan
Memaknai kata "Istiqomah" secara bahasa berarti : Tegak dan Lurus atau dengan tetap pada pendiriannya sehingga tidak tergoyahkan dengan berbagai godaan dan rayuan serta tantangan dengan hal apapun. Sedangkan secara Istilah, para ahli salafus shalih memberikan beberapa definisi, diantaranya : Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu menyatakan bahwa Istiqomah "Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti berpalingnya seekor musang". Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu : menyatakan bahwa "Istiqomah artinya ikhlas". Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu : "Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban". Serta Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu : "Istiqomah mengandung 3 macam arti : Istiqomah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqomah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan istiqomah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus). Ar Raaghib : "Tetap berada di atas jalan yang lurus" (istiqomah, Dr. Ahmad bin Yusuf Ad Duraiwisy, Darul Haq).
Dengan demikian pemahaman yang lebih mendalam terhadap Istiqomah dalam menuju perubahan adalah merupakan suatu komitmen dalam menjalankan satu program untuk menuju satu tujuan, oleh karenanya berusaha untuk tetap fokus, fokus dan fokus adalah kunci utama. Istiqomah itu mengandung: 1) konsisten, sehingga secara terus menerus apa yang dianggap baik itu dijalankan, 2) tahan uji kepada godaan-godaan yang mungkin menjadi penghambat, menjadi halangan kita sampai pada tujuan yang cita-citakan. Derajat yang tertinggi dalam kita melakukan perubahan adalah menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan demikian tujuan perubahan harus dikawal dengan niat untuk menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Istiqomah mengharuskan kita sebagai manusia untuk tidak tergoyahkan pada apapun yang telah diwajibkan dan dilarang oleh Allah SWT. Focus meskipun badai menghantam dan nyawa harus dibayar itulah jalan panjang menuju manusia yang ingin berubah menjadi hamba Allah yang terbaik.
2.   Tawakal Dalam Menjalankan Perubahan
Tawakal secara bahasa, berarti bersandar atau mempercayai diri. Dalam agama, tawakal adalah sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, atau menyerahkan sepenuhnya hasil ikhtiar tersebut kepada Allah SWT. Memaknai tawakal berdasarkan hadist, maka kita akan menemukan anjuran Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam untuk bekerja keras dan tidak sekedar bergantung pada doa. Rasulullah SAW, sangat menghimbau kita mencari rezeki  meskipun harus merantau ke negeri seberang dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah SWT.
Pekerjaan dalam melaksanakan seuah proyek “Perubahan” bukan sekedar pasrah lantas menerima apa adanya, tapi tawakal adalah berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan berbagai daya upaya untuk mendapatkan hasil yang luar biasa sesuai dengan tujuan yang telah dicita –citakan. Dengan demikian mengutamakan kepasrahan tanpa melakukan usaha adalah kesalahan proses berfikir. Tawakal merupakan sikap aktif dan tumbuh hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan benar serta menerima kenyataan hidup dengan tepat. Sebab pangkal tawakal adalah kesadaran diri bahwa perjalanan pengalaman manusia secara keseluruhan dalam sejarah kehidupan diri pribadi.
Manusia yang bertawakal dapat menemukan ketenangan dalam dirinya, dengan demikian  bertawakal adalah pekerjaan mental yang dipersiapkan pada ketentuan Allah SWT untuk menerima semua hal yang terjadi setelah manusia melakukan upaya yang keras, cerdas dan ikhlas dalam kehidupan ini. Allah berfirman dalam surat Ali Imran (3) ayat 159: Artinya: “kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”  Allah juga berfirman dalam surat Ath-Thalaq (65) ayat 3: Artinya “dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..”
Saatnya untuk merevisi pemahaman kita terhadap makna tawakal jika itu masih sebatas pengetahuan orang pada umumnya. Tawakal yang sesungguhnya akan menjadikan manusia senantiasa bekerja keras dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala, Karena janji Allah pasti datang. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).
3.   Sabar dalam menjalankan Perubahan
Sabar secara etimologi, sabar (ash-shabar) berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu. Teramat sering kata sabar masuk ke alam bawah sadar kita, terutama kala seseorang dalam keadaan terpuruk. Nasehat-nasehat yang datang dari berbagai penjuru akan senada dan seirama, sabar semua pasti ada hikmah-Nya atau sabar lebih baik ngalah karena ngalah belum tentu kalah. Kondisi ini menunjukkan lemahnya seseorang ketika keterpurukan itu mendera hidupnya. Dan begitulah fenomena yang ada dalam masyarakat muslim pada umumnya dalam memaknai sabar. Sabar hanya sebatas menahan diri dan menerima apa adanya yang sudah menjadi nasibnya.
Sementara makna sabar yang ada di dalam Al-Qur’an menuntut seseorang untuk senantiasa siap-siaga dalam segala kondisi, baik itu sedang berjaya maupun sedang terpuruk. Sabar dan terus menguatkan keimanan dengan tetap bertaqwa kepada Allah SWT. Demikian jelasnya firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
Teramat naïf jika seseorang mengatasnamakan sabar, dia senantiasa mengalah dan menahan diri dalam kesulitannya tanpa melakukan apapun sebagai upaya keluar dari kesulitan tersebut. Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib telah menjelaskan bahwa orang yang mencapai derajat shabir (sabar) akan mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tak terhitung jumlahnya. Jadi, sabar menuntut seseorang untuk melakukan usaha secara terus-menerus dengan semangat dalam bekerja, walaupun kegagalan akan silih berganti menerpanya.

Demikian lah tiga hal utama yang dapat menjadi pengiring kita dalam menapaki jalan panjang menuju perubahan.semoga Allah akan membimbing kita semua Amin, salam Perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar