Oleh : Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
Kisah
orang – orang sukses dalam menapak perubahan di berbagai bidang nampaknya
menjadi guru yang sangat bijak dan menjadi penyemangat dikala kita sedang
gundah dalam menjalankan niat suci untuk melakukan perubahan, akan tetapi
nampaknya tidak seindah impian dihati untuk menggapai misi suci ini hanya
kesabaran yang menjadi tuntutan kita untuk mencapai batas akhir dalam sebuah perubahan menuju arah yang lebih
baik. Demikian juga untuk
menggapai kesuksesan. Kesabaran adalah kunci dan fondasi untuk
membangun kesuksesan. Jika Anda dicemoohkan orang, mendapatkan
penolakan, menghadapi banyak rintangan atau belum memperoleh hasil signifikan
dari kerja keras Anda selama ini, bersabarlah. Sebelum menjadi orang terkaya di
dunia versi majalah Forbes, Bill Gates selama bertahun-tahun
menerima pendapatan dari software ciptaannya hanya $2 per hari. Nilai yang
lebih rendah dari gaji seorang pegawai rendahan sekalipun di Amerika. Tapi Bill
Gates tetap sabar dan yakin dalam menjalankan bisnisnya. Demikian juga J.K
Rowling, penulis laris buku Harry Potter yang sangat mendunia. Sebelum
sebuah penerbit kecil di Inggris, Bloomsbury menerbitkan novel Harry Potter,
J.K Rowling menghadapi 12 kali penolakan terhadap manuskripnya.
Seandainya J.K Rowling menyerah dan tidak sabar dalam menghadapi 12 penolakan
tersebut, kita tidak pernah membaca hasil karyanya menakjubkan itu dan iapun
tidak sesukses seperti sekarang ini.
Bila
Perubahan menuju kesuksesan menuntut kita untuk memulai pekerjaan besar yaitu
berusaha tetap konsisten untuk melakukan berbagai langkah dan upaya untuk
mencapai tujuan yang telah direncanakan maka ada tiga hal penting untuk kita
pegang erat dan kita jaga agar tiga hal ini selalu mengiri kita dalam menapak
jalan panjang menuju perubahan, ketiga tersebut antara lain :
1. Istiqomah / Konsisten dalam
menjalankan Perubahan
Memaknai kata "Istiqomah" secara bahasa
berarti : Tegak dan Lurus atau dengan tetap pada pendiriannya sehingga tidak
tergoyahkan dengan berbagai godaan dan rayuan serta tantangan dengan hal
apapun. Sedangkan secara Istilah, para ahli salafus shalih memberikan beberapa
definisi, diantaranya : Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu menyatakan bahwa Istiqomah "Hendaknya kita
bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling seperti
berpalingnya seekor musang". Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu : menyatakan
bahwa "Istiqomah artinya ikhlas". Ali bin Abi Thalib radhiallahu
'anhu : "Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban". Serta Ibnu
Abbas radhiallahu 'anhu : "Istiqomah mengandung 3 macam arti :
Istiqomah dengan lisan (yaitu bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat),
istiqomah dengan hati (artinya terus melakukan niat yang jujur) dan istiqomah
dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
Ar Raaghib : "Tetap berada di atas jalan yang lurus" (istiqomah,
Dr. Ahmad bin Yusuf Ad Duraiwisy, Darul Haq).
Dengan demikian pemahaman yang lebih mendalam terhadap Istiqomah
dalam menuju perubahan adalah merupakan suatu komitmen dalam menjalankan satu
program untuk menuju satu tujuan, oleh karenanya berusaha untuk tetap fokus,
fokus dan fokus adalah kunci utama. Istiqomah itu mengandung: 1) konsisten,
sehingga secara terus menerus apa yang dianggap baik itu dijalankan, 2) tahan
uji kepada godaan-godaan yang mungkin menjadi penghambat, menjadi halangan kita
sampai pada tujuan yang cita-citakan. Derajat yang tertinggi dalam kita
melakukan perubahan adalah menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Dengan demikian tujuan perubahan harus dikawal dengan niat untuk menjadi hamba
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Istiqomah mengharuskan kita sebagai
manusia untuk tidak tergoyahkan pada apapun yang telah diwajibkan dan dilarang
oleh Allah SWT. Focus meskipun badai menghantam dan nyawa harus dibayar itulah
jalan panjang menuju manusia yang ingin berubah menjadi hamba Allah yang
terbaik.
2. Tawakal Dalam Menjalankan Perubahan
Tawakal secara bahasa,
berarti bersandar atau mempercayai diri. Dalam agama, tawakal adalah
sikap bersandar dan mempercayakan diri kepada Allah, atau menyerahkan
sepenuhnya hasil ikhtiar tersebut kepada Allah SWT. Memaknai tawakal berdasarkan hadist,
maka kita akan menemukan anjuran Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam
untuk bekerja keras dan tidak sekedar bergantung pada doa. Rasulullah SAW,
sangat menghimbau kita mencari rezeki meskipun harus merantau ke negeri
seberang dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah SWT.
Pekerjaan dalam melaksanakan seuah proyek “Perubahan” bukan
sekedar pasrah lantas menerima apa adanya, tapi tawakal adalah berserah diri
kepada Allah SWT setelah melakukan berbagai daya upaya untuk mendapatkan hasil
yang luar biasa sesuai dengan tujuan yang telah dicita –citakan. Dengan
demikian mengutamakan kepasrahan tanpa melakukan usaha adalah kesalahan proses
berfikir. Tawakal merupakan sikap aktif dan tumbuh
hanya dari pribadi yang memahami hidup dengan benar serta menerima kenyataan
hidup dengan tepat. Sebab pangkal tawakal adalah kesadaran diri bahwa
perjalanan pengalaman manusia secara keseluruhan dalam sejarah kehidupan diri
pribadi.
Manusia yang bertawakal
dapat menemukan ketenangan dalam dirinya, dengan demikian bertawakal adalah pekerjaan mental yang
dipersiapkan pada ketentuan Allah SWT untuk menerima semua hal yang terjadi
setelah manusia melakukan upaya yang keras, cerdas dan ikhlas dalam kehidupan
ini. Allah berfirman dalam surat Ali Imran (3) ayat 159: Artinya: “kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” Allah juga berfirman dalam surat Ath-Thalaq
(65) ayat 3: Artinya “dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..”
Saatnya untuk merevisi pemahaman kita terhadap makna tawakal
jika itu masih sebatas pengetahuan orang pada umumnya. Tawakal yang
sesungguhnya akan menjadikan manusia senantiasa bekerja keras dan menyerahkan
apapun hasilnya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala, Karena janji Allah pasti
datang. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).
3. Sabar dalam menjalankan
Perubahan
Sabar secara etimologi,
sabar (ash-shabar) berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara
terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai
karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri
dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan
dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal
ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu. Teramat sering kata sabar masuk ke
alam bawah sadar kita, terutama kala seseorang dalam keadaan terpuruk.
Nasehat-nasehat yang datang dari berbagai penjuru akan senada dan seirama,
sabar semua pasti ada hikmah-Nya atau sabar lebih baik ngalah karena ngalah
belum tentu kalah. Kondisi ini menunjukkan lemahnya seseorang ketika
keterpurukan itu mendera hidupnya. Dan begitulah fenomena yang ada dalam
masyarakat muslim pada umumnya dalam memaknai sabar. Sabar hanya sebatas
menahan diri dan menerima apa adanya yang sudah menjadi nasibnya.
Sementara makna sabar yang ada di dalam Al-Qur’an menuntut
seseorang untuk senantiasa siap-siaga dalam segala kondisi, baik itu sedang
berjaya maupun sedang terpuruk. Sabar dan terus menguatkan keimanan dengan
tetap bertaqwa kepada Allah SWT. Demikian jelasnya firman Allah di dalam
Al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 200 yang artinya : “Hai orang-orang yang
beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga
(di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”
Teramat naïf jika seseorang mengatasnamakan sabar, dia
senantiasa mengalah dan menahan diri dalam kesulitannya tanpa melakukan apapun
sebagai upaya keluar dari kesulitan tersebut. Sedangkan sahabat Ali bin Abi
Thalib telah menjelaskan bahwa orang yang mencapai derajat shabir (sabar) akan
mengeruk pahala laksana mengeruk debu yang tak terhitung jumlahnya. Jadi, sabar
menuntut seseorang untuk melakukan usaha secara terus-menerus dengan semangat
dalam bekerja, walaupun kegagalan akan silih berganti menerpanya.
Demikian lah tiga hal utama yang dapat menjadi pengiring
kita dalam menapaki jalan panjang menuju perubahan.semoga Allah akan membimbing
kita semua Amin, salam Perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar