Di dalam
memahami tentang kepemimpinan, banyak orang telah melakukan penelitian,
penelitian-penelitian tersebut telah melahirkan teori-teori baru tentang
kepemimpinan. Teori-teori inilah yang
selanjutnya akan dipergunakan sebagai bahan studi bagi orang lain, demikianlah
seterusnya, berputar bagaikan sebuah roda yang
menggelinding terus pada sumbunya.
Demikian pula penulis dalam memperluas pemahaman tentang konsep-konsep yang
akan dihasilkan maka harus mendasari pemikiran dengan menggunakan teknik studi
literatur atau pustaka.
Khusus untuk
pemahaman tentang kepemimpinan, penulis akan memberikan beberapa konsep tentang
kepemimpinan. Konsep-konsep kepemimpinan ini dapat ditunjukan didalam teori
kepemimpinan. Berkaitan dengan judul Skripsi ini, yaitu tentang perilaku kepemimpinan, maka untuk lebih
mengarahkan pembahasan di bawah ini akan diuraikan tentang teori kepemimpinan
dengan model pendekatan perilaku.
Hal ini
sesuai beberapa teori yang dikemukan oleh Miftah Thoha (1995:34) sebagai
berikut :
1.
Teori Sifat
(Trait Theory)
Menurut teori
ini bahwa untuk mengetahui tentang kepemimpinan harus dimulai dengan memusatkan
perhatianya pada pemimpin itu sendiri.
Penekanannya ialah tentang sifat-sifat yang membuat seseorang sebagai
pemimpin. Menurutnya teori awal tentang sifat ini dapat ditelusuri dari zaman
Yunani kuno dan zaman Roma. Pada zaman itu bahwa pemimpin itu dilahirkan,
bukanya dibuat. Seperti halnya teori The Great Man yang menyatakan bahwa
seorang yang dilahirkan sebagai pemimpin ia akan menjadi pemimpin apakah ia
mempunyai sifat atau tidak mempunyai sifat sebagai pemimpin.
Teori Great
Man baru dapat memberikan arti lebih realistis terhadap pendekatan sifat dari
pemimpin, setelah mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi.
Yaitu ditegaskan bahwa dalam kenyataanya sifat-sifat kepemimpinan itu tidak
seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga dicapai melalui pendidikan dan
pengalaman. Oleh karenanya perhatian
terhadap kepemimpinan dialihkan kepada sifat-sifat umum yang dimiliki oleh
pemimpin, tidak menekankan apakah
pemimpin dilahirkan atau dibuat. Oleh
karena itu sejumlah sifat-sifat seperti fisik, mental, kepribadian menjadi
pusat perhatian untuk diteliti.
Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh pera peneliti dapat disimpulkan bahwa diantara
sifat-sifat yang cenderung mempengaruhi timbulnya kepemimpinan antara lain
adalah kecerdasan, inisiatif, keterbukaan, antusiasme, kejujuran, simpati, dan
kepercayaan pada diri sendiri. Namun
tidak semua sifat-sifat tersebut bisa diterapkan pada semua bidang, terutama pada organisasi, dikatakan bahwa
keberhasilan seorang manajer tidak semata-mata dipengaruhi oleh sifat-sifat
tadi, artinya tidak ada hubungan sebab akibat
dari sifat yang diteliti diatas dengan keberhasilan seorang manajer.
Akhirnya kesimpulan
dari teori sifat ini diketahui bahwa tidak ada korelasi sebab akibat antara
sifat dan keberhasilan manajer, sehingga mendorong Keith Davis yang disarikan
oleh Miftah Thoha (1995:33) untuk merumuskan empat sifat umum yang mempengaruhi
terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu:
a)
Kecerdasan, Hasil penelitian pada umumnya
membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin.
Namun demikian, yang sangat menarik dari penelitian tersebut ialah pemimpin
tidak bisa melampaui terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya.
b)
Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial. Pemimpin cenderung menjadi
matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas
terhadap akitivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai.
c) Motivasi diri
dan dorongan berprestasi. Para pemimpin seara realatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk
berprestasi. Mereka bekerja berusaha mendapatkan penghargaan yang intrinsik
dibandingkan dari yang ekstrinsik.
d) Sikap sikap
hubungan kemanusiaan. Pemimpin-pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan
pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya. Dalam istilah penelitian Universitas
Ohio pemimpin itu mempunyai perhatian dan kalau mengikuti istilah penemuan
michigan pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukanya beorientasi pada
produksi.
2. Teori G.R. Terry
Disamping teori yang dikemukakan oleh Miftah Thoha di atas, ada teori kepemimpinan yang disampaikan oleh
G.R. Terry yang disunting oleh Winardi, mengelompokan teori tentang
kepemimpinan ke dalam 8 teori. Ke delapan teori tersebut antara
lain :
1.
Teori
Otokratis ( The autocratic theory)
2.
Teori
Psikologis (The psucologic theory)
3. Teori
sosiologis (The sosiologic teory)
4.
Teory suportif
(The Suportive theory)
5. Teori Laisez
Faire (The Laissez Faire theory)
6.
Teori
Perilaku Pribadi (The personal Behaviour theory)
7.
Teori sifat
(Trait theory)
8.
Teori situasi
(The situational theory)
Pendapat lain
tentang kepemimpinan dikemukakan oleh Shaun Tyson dan Tony Jackson (2000:83). Dalam uraianya dikemukakan olehnya bahwa
:”kepemimpinan sebagai pengaruh yang meliputi transaksi terus-menerus antara
pemimpin dan pengikut”. Implikasi dari hal tersebut menurutnya bahwa
kepemimpinan terjadi didasarkan atas kondisi sebagai berikut:
§ Pemimpin harus menunjukan penyebab
terjadinya sesuatu.
§ Hubungan perilaku pemimpin dan
pengaruhnya harus dapat diamati
§ Harus ada perubahan-perubahan yang
riil dalam perilaku anggota organisasi dan dalam hasil akhir yang berikutnya
sebagai konsekuensi tindakan pemimpin.
Leadership (kepemimpinan)
adalah “fenomena yang paling banyak dicermati dan paling jarang dimengerti.’
James Macgregor Burns (1978), dalam bukunya
Leadership, menyatakan. Meski begitu
banyak kajian tentangnya, tetap saja kepemimpinan tampil sebagai konsep yang
taksa, multi-tafsir, tak jelas bentuk dan banyak salah dipahami. Beragamnya
definisi kepemimpinan bisa menjadi indikasi dari ‘kekaburan’ konsep ini. Suatu
hal yang memiliki begitu banyak definisi biasanya merupakan hal yang sulit
dipahami. Definisi sebagai penjelasan yang berfungsi membedakan satu hal dari
hal lainnya dapat diberikan secara lengkap dan tepat jika hal yang
didefinisikan dapat dikenali batas-batasnya, dapat dipisahkan secara jelas dan
terpilah dari hal-hal yang lain.
Oleh karena kepemimpinan tidak jelas
batasnya maka sulit untuk dikenali secara jelas dan dipilah secara tegas dari
hal-hal lain. Contohnya, orang sering mencampur-adukkan kepemimpinan dengan
manajemen dan administrasi atau dengan sifat-sifat pemimpin dan ciri-ciri
pemimpin. Ada yang sepilah-pilah memberi identitas bagi kepemimpinan dalam
definisi yang dibuatnya seperti menyatakan bahwa kepemimpinan adalah
“...perilaku individu yang memimpin berbagai aktivitas kelompok pada suatu yang
ingin idcapai bersama” (Hemhill & Coons, 1957 dalam Wren,
1995), juga “...pengaruh antarpribadi yang
dijalankan dalam situasi tertentu serta diarahkan melalui proses komunikasi ke
arah pencapaian satu atau beberapa tujuan” (Tannenbaum, Weschler &
Massarik, 1961 dalam Wren, 1995).
Ada juga yang mempersempit ruang lingkup pengertian kepemimpinan menjadi hanya
serangkaian kegiatan yang dilakukan orang-orang tertentu.
Ketakjelasan konsep kepemimpinan berakar
dari fenomena kepemimpinan yang memang tidak menampilkan diri secara jelas.
Kepemimpinan bukan suatu ‘substansi’ dalam pengertian sesuatu yang ada bagi
dirinya sendiri, terpilah dan otonom. Kepemimpinan termasuk dalam kategori[i]
‘relasi’[ii],
sesuatu yang keberadaannya terhubung dengan hal lain, sesuatu yang tak bisa ada
tanpa keberadaan hal yang berhubungan dengannya. Kepemimpinan adalah gejala
yang tampil ketika ada interaksi antar manusia dalam sebuah lingkungan
tertentu. Ide kepemimpinan adalah ide yang lahir setelah ide pemimpin. Di sisi
lain, ide pemimpin adalah ide yang lahir setelah adanya interaksi antar
manusia. Ide kepemimpinan seperti ide suami yang tak bisa ada jika tidak ada
ide istri atau ide guru yang tak bisa ada jika tidak ada murid. Juga seperti
ide kemanuasiaan yang tidak ada jika tak ada ide manusia. Dengan memahami
fenomena kepemimpinan yang tergolong relasi, kita perlu memahami konteks yang
melingkupi kepemimpinan untuk dapat memahaminya. Kepemimpinan selalu ada dalam
konteks. Jika konteks berubah maka isi pengetiannya juga berubah. Kepemimpinan,
juga pemimpin, bukan barang jadi yang tetap seperti sediakala sejak
keberadaannya disadari manusia. Atribut keduanya terus berubah, begitu pula
ruang-lingkupnya.
Ide kepemimpinan merujuk pada
sekumpulan atribut yang muncul pada kondisi interaksi dua orang atau lebih
dalam upaya memanfaatkan sumberdaya untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi
perlu dipahami bahwa atribut-atribut yang muncul dalam kondisi itu bukan hanya
kepemimpinan dan lebih perlu dicermati lagi bahwa atribut-atribut itu bukan hal
yang dapat dilepaskan dari kondisi itu. Kepemimpinan tidak dapat dipilah dan
dikeluarkan dari kondisi itu, tidak dapat ditentukan secara jelas dan tegas
batas-batasnya, serta tak dapat pula dipilah secara jernih keberadaannya dari
kondisi yang melingkupinya, juga dari atribut lain yang muncul bersamaan
dengannya. Inilah yang menjadi sebab utama dari kesulitan mendefinisikan
kepemimpinan. Pemahaman manusia tentang kepemimpinan adalah hasil abstraksi bukan
intuisi atau sensasi. Penalaran kita memberikan petunjuk bahwa ada kepemimpinan
dalam kondisi interaksi manusia. Seperti kemanusiaan atau keadilan yang tak
dapat dilihat langsung bendanya, kepemimpinan adalah benda abstrak yang
dihasilkan manusia dalam proses interaksinya dengan lingkungan.
Berbekal pemahaman tentang kepemimpinan
sebagai ‘relasi’ dan benda abstrak, kita dapat menyimpulkan bahwa pemahaman
tentang kepemimpinan hanya dapat kita peroleh jika terlebih dahulu memahami
kondisi dan konteks yang melingkupinya. Kita harus memahami interaksi antar
manusia dan interaksi manusia dengan lingkungannya. Itu juga berarti kita harus
memahami manusia, hubungan antar manusia yang didasari oleh kodrat dan
tujuannya sebagai makhluk sosial, serta memahami bagaimana manusia menghayati
lingkungannya. Pemahaman terhadap kepemimpinan baru bisa didapat setelah
pemahaman tentang manusia, organisasi, administrasi dan manajemen. Itulah
mengapa sebuah pembahasan tentang kepemimpinan seperti yang disajikan oleh J.
Thomas Wren (editor) dalam The Leader’s
Companion; Insight on Leadership Through the Ages (1995), menyertakan juga
kajian-kajian filsafat (termasuk filsafat moral), psikologi, sastra, sosiologi,
administrasi, manajemen, politik, bahkan kebudayaan. Secara lebih mendasar,
kepemimpinan bukan hanya bicara tentang bagaimana menjadi pemimpin tetapi lebih
jauh lagi bagaimana menjadi manusia.
Plato, filsuf besar Yunani Kuno (1961) dalam bukunya Collected Dialogues. menggambarkan
pemimpin yang baik adalah orang yang mengerti tentang kebenaran dan dapat
membantu pengikutnya memahami apa itu kebenaran. Pemimpin harus mampu membantu
pengikutnya mencapai kebahagiaan sebagai tujuan manusia. Manusia harus
bersama-sama dengan orang lain dalam masyarakat untuk saling membantu mencapai
tujuan itu dan pemimpin memfasilitasi usaha bersama menuju jalan yang benar
bagi pencapaiannya. Kepemimpinan adalah kebijaksanaan yang memungkinkan manusia
mengenali kebenaran, rasionalitas yang melahirkan kebahagiaan dan moralitas
yang menjaga kelurusan di jalan yang benar. Keutamaan seorang pemimpin adalah
pengetahuannya tentang kebenaran dan jalan mencapai kebahagiaan manusia.
Sejalan dengan gurunya, Aristoteles[iii]
murid Plato menekankan pentingnya keseimbangan rasional, moral dan sosial pada
manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan. Pemimpin dengan rasionalitas dan
moralitasnya membantu pengikutnya untuk menempatkan diri dalam kehidupan sosial
dengan fungsi yang produktif. Mereka yang tidak mengetahui tentang pengetahuan
yang benar, tujuan manusia dan bagaimana mencapainya tidak layak menjadi
pemimpin. Begitu dua filsuf ini menegaskan.
Di Cina, Lao-tzu dalam kitab Tao Te Ching menunjukkan bahwa pemimpin
yang baik adalah mereka yang mampu meniadakan kediriannya, melepaskan egonya
demi kepentingan pengikutnya. Seperti langit dan bumi yang tidak mewakili diri
sendiri tetapi mewakili keseluruhan alam, seorang pemimpin adalah orang yang
mewakili para pengikutnya, lebih jauh lagi mewakili harmoni semesta, mewakili Dao, tata cara alami yang sejak
sediakala menata alam semesta jauh sebelum manusia ada. Pemimpin seperti angin
dan pengikut seperti rumput. Kemana angin bertiup, ke sana rumput bergerak.
Jika pemimpin menuju jalan yang salah, salah pula gerak pengikutnya. Agar tak
salah bergerak, pemimpin harus merujuk kepada bumi yang merujuk kepada langit
yang merujuk kepada Dao. Standar
manusia adalah bumi, standar bumi adalah langit dan standar langit adalah Dao. Kepada Dao semua merujuk.
Dao meski
tak terkatakan maknanya namun dapat dipahami sebagai harmoni yang terentang di
alam semesta, tatacara alam menjaga diri selama miliaran tahun. Maka,
kepemimpinan adalah harmoni, kesediaan dan kelenturan mengikuti alam. Seperti
alam yang menyediakan kebutuhan manusia, pemimpin harus mau memikirkan dan
menyediakan kebutuhan pengikutnya. Kepemimpinan adalah pelayanan, bukan
kedirian atau kepribadiaan seseorang. Pemimpin yang bijak seperti air,
membersihkan dan menyegarkan segala makhluk tanpa pilih-kasih dan tanpa
penilaian; bebas dan tak kenal takut masuk ke bagian terdalam setiap benda;
cair dan responsif; mengikuti hukum dengan bebas. Seperti air, pemimpin yang
bijak menghidupkan dan mengembangkan. Pemimpin juga seperti bidan, membantu
melahirkan bayi bukan memberikan atau menciptakan bayi. Kebaikan dan
kesejahteraan lahir bukan dari pemimpin tetapi difasilitasi oleh pemimpin.
Konfucius
juga mengikuti Dao tetapi berbeda
dari Lao-tzu, ia menekankan pentingnya kehidupan bermasyarakat. Manusia dalam
kenyataannya selalu hidup bersama dengan manusia lain. Alam telah menempatkan
manusia dalam sebuah kehidupan sosial, oleh karena itu kehidupan bermasyarakat
menjadi bagian penting dari hidup manusia. Konfucius menekankan bahwa seorang
manusia dalam hubungannya dengan manusia lain harus mengikuti tatacara
kehidupan yang telah dibangun oleh para orang bijak kuno sesuai dengan tatacara
alam (Dao). Dalam kitab Mengzi (Mengsius) dituliskan petunjuk
bagi manusia: “Tinggal di dalam rumah besar dunia ini, mempertahankan posisi
yang betul dalam dunia, dan mengikuti Dao yang agung dari dunia ini.”
Semua perilaku manusia harus merujuk kepada alam yang telah miliaran tahun
menata diri dalam harmoni. Alam pun telah menunjukkan apa itu pemimpin dan
bagaimana ia harus berperilaku.
Bagi
Konfucius, hakikat ideal penguasa atau pemimpin seharusnya dimiliki orang-orang
yang diberi nama penguasa atau yang dalam sebutan Cina disebut sebagai ‘jalan
bagi penguasa’. Seorang yang menjadi pemimpin memiliki kewajiban dan tanggung
jawab sebagai penguasa. Seorang penguasa adalah seorang yang mengatur rakyat.
Mengatur adalah meluruskan. Jika seorang penguasa membuat rakyatnya jadi
menyimpang, maka ia tak layak disebut penguasa. Namanya harus diubah sesuai
dengan perilaku aktualnya atau perilaku aktualnya diubah agar sesuai dengan
namanya sebagai penguasa. Kaisar sebagai pemimpin adalah putra langit yang
mendapat mandat dari langit (yang merujuk kepada Dao sebagai tatacara alam menampilkan harmoni), oleh sebab itu ia
harus memerintah dengan menjalankan aturan-aturan dari langit. Namun jika ia
melakukan korupsi maka ia bukan lagi penguasa, ia adalah koruptor. Kepemimpinan
bagi Konfucius adalah pengaturan atau pelurusan segala hal yang menyimpang dari
tata cara alami.
Dari Babylonia, melalui catatan-catatan
dalam Gilgamesh, ditunjukkan Aristotle. Trans. 1996. Aristotle, Posterior
Analytics (translation with commentary), 2nd edition. Clarendon
Aristotle Series. Oxford: Clarendon Press. Dinyatakan bahwa bahwa kekacauan dan kerusakan sebuah
masyarakat berkorelasi positif dengan penyimpangan yang dilakukan pemimpinnya.
Semakin buruk kondisi sosial-ekonomi masyarakat, semakin besar distorsi
kepemimpinannya. Semakin menyimpang pemimpin dari kewajiban dan tanggung-jawabnya,
semakin kacau kondisi masyarakatnya. Cerita yang sejalan kita temukan juga
dalam Ramayana dan Mahabharata yang merepresentasikan
masyarakat India, juga dalam cerita-cerita kepahlawanan Eropa. Kepemimpinan
adalah sesuatu yang erat hubungannya dengan kondisi masyarakat sebagai
sekumpulan manusia yang bersama-sama berusaha mencapai tujuan tertentu,
mencapai kesejahteraan. Di sana kita mendapat insight tentang kepemimpinan sebagai sesuatu yang tak terpisahkan
dari kehidupan dan tujuan hidup masyarakatnya. Kepemimpinan menempel dalam
praktek keseharian masyarakat kuno, dalam tindakan-tindakan mencapai
kesejahteraan bersama. Prasasti-prasasti Mesir Kuno pun menunjukkan peran
pemimpin dan kepemimpinan dalam masyarakat. “Ketegasan perintah ada di mulutnya,
ketajaman persepsi ada di hatinya, dan keadilan dilidahnya.” Itulah kualitas
pemimpin dalam cerita tentang Firaun yang tertuang lewat goresan-goresan
hieroglif. Kepemimpinan digambarkan sebagai perpaduan antara pikiran, ucapan,
perasaan dan kehendak untuk menghasilkan peraturan yang tegas, kebijakan yang
menentramkan dan keadilan yang menyejahterakan.
Ajaran-ajaran kuno tentang pemimpin dan
kepemimpinan memberi insight kepada
kita bahwa karakteristik pemimpin dan kepemimpinan diturunkan dari konsep manusia,
masyarakat dan tujuan masyarakat. Plato dan Aristoteles terlebih dahulu
menjelaskan siapa manusia, hakikat masyarakat dan tujuan hidup manusia yang
akan dicapai melalui kehidupan bersama. Lao-tzu dan Konfucius menegaskan
dasar-dasar kosmologis (asal-usul alam) dan hakikat manusia sebagai bagian alam
semesta bagi pemimpin dan kepemimpinan. Kisah-kisah dari Babylonia, India dan
Mesir menunjukkan dasar kepercayaan tentang dewa-dewa, asal-usul alam dan
manusia bagi penentuan kriteria pemimpin dan kepemimpinan. Setiap konsep
pemimpin dan kepemimpinan selalu diletakkan dalam konteks kehidupan berasama
dan itu memberikan alasan lebih kuat bagi pemahaman tentang kepemimpinan
sebagai hal yang termasuk dalam kategori ‘relasi’.
Untuk memahami aspek dan faktor kepemimpinan
kita perlu berangkat dari pemahaman bahwa kepemimpinan selalu berada dalam
konteks, terlekat erat di dalam interaksi manusia dalam usaha mencapai tujuan
tertentu. Kita perlu mengurai hal-hal yang ada di situ. Manusia, baik sebagai
pemimpin maupun pengikut, adalah unsur yang pasti ada di sana. Lalu interaksi
antar-manusia yang didasari oleh struktur kelompok (dalam konteks lebih luas
masyarakat atau negara), sumberdaya
non-manusia (termasuk pengetahuan teoritis, metodis dan teknik pemanfaatan serta
pembudidayaannya), kondisi alam tempat kelompok tumbuh, juga interaksi antara
manusia, sumberdaya dan kondisi alam, serta tujuan bersama yang ingin dicapai.
Kita dapat menurunkan aspek-aspek
kepemimpinan dari konteksnya mencakup aspek psikologis, sosiologis, kultural,
politis, historis, geografis, teknis dan ekonomis. Saya akan menguraikan aspek
psikologis lebih banyak ketimbang aspek-aspek lainnya mengingat kompetensi saya
terbatas pada bidang psikologi. Aspek-aspek lainnya hanya akan saya singgung sedikit
meskipun tetap ikut dipertimbangkan dalam pembahasan saya tentang kepemimpinan.
Aspek psikologis membawa kita kepada
faktor manusia dan interaksi manusia. Pemahaman terhadap aspek psikologis dan
faktor-faktornya membutuhkan bantuan dari psikologi sebagai ilmu yang
mempelajari tingkahlaku dalam interaksi manusia. Pengenalan terhadap manusia
menjadi sangat penting dalam pemahaman tentang kepemimpinan. Perilaku pemimpin
dan pengikut didasari oleh faktor kepribadian yang mendasari kecenderungan
seseorang mencakup motivasi (dikaitkan dengan motif), trait (sifat), temperamen, belief
(kepercayaan), gaya kognitif dan bakat.
Secara umum motivasi diartikan sebagai
satu variabel penyelang (yang ikut campur tangan) yang digunakan untuk
menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan,
mengelola, mempertahankan dan menyatukan tingkah laku menuju satu sasaran.
Dalam konteks kepemimpinan, jenis motivasi yang relevan adalah motif sosial.
Konsep motif sosial yang selama ini sering digunakan dalam konteks politik
adalah konsep motivasi dari D.C. McClelland (1951). McClelland menjelaskan
motivasi dalam bentuk tiga jenis kebutuhan: kebutuhan prestasi, kebutuhan
afiliasi dan kebutuhan kekuasaan (power). Ketiga kebutuhan ini ada pada tiap
orang tetapi dengan derajat dan komposisi yang berbeda-beda.
Trait (sifat) adalah struktur
neuropsikis yang memiliki kapasitas untuk merajut berbagai stimulus yang setara
secara fungsional serta memulai dan memandu tampilnya bentuk-bentuk tingkah
laku adaptif dan ekspresif (Allport, 1961:347). Struktur neuropsikis itu
membentuk kecenderungan seseorang untuk berespons secara sama terhadap
setimulus yang berbeda. Sebagai contoh, pemimpin yang memiliki trait keteraturan cenderung selalu
bekerja secara teratur dan menuntut pengikutnya untuk teratur pula serta tidak
suka terhadap situasi kelompok yang tanpa hierarki. Pemimpin yang memiliki trait ‘penjudi’ cenderung berani
mengambil tindakan berrisiko besar dan spekulatif.
Temperamen merujuk pada disposisi yang
secara dekat terkait dengan
determinan-determinan biologis atau fisiologis.[iv]
Temperamen menentukan respons emosional seseorang terhadap rangsang-rangsang
dari luar. Temperamen juga mempengaruhi pembentukan karakter seseorang. Wund
(dalam Allport, 1937) menunjukkan kesesuaian empat jenis temperamen dari
Hippocrates, sanguin, melankolik, kolerik, plegmatik, dengan
dimensi-dimensi emosi manusia. Wund menggolongkan tipe-tipe orang menggunakan
empat klasifikasi temperamen dari Hippocrates berdasarkan: (a) kecepatan timbulnya emosi dan intensitas responsnya; (b)
lebar dan dalamnya emosi; serta (c) segi kinetis dan suasana afektif. Sebagai
contoh, orang yang bertipe sanguin akan cenderung berrespons secara hangat
terhadap orang lain meski tidak mendalam. Sedangkan orang bertipe kolerik
cenderung berespons dingin terhadap orang lain tetapi berusaha menjajaki setiap
orang-orang yang dikenalnya secara mendalam dan cepat mengambil tindakan yang
diperlukan.
Belief
(kepercayaan) menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang mengungkapkan dan
meletakkan bias-bias motivasional sebagai hal yang setara dan berkesinambungan
dengan penilaian terhadap realitas. Seseorang akan menggunakan kepercayaannya
dalam menilai sesuatu dan cenderung lebih mengikuti apa yang dipercayainya
meskipun fakta mengindikasikan hal yang berbeda. Bias-bias dari tindakannya berdasarkan kepercayaan, meski
disadari, dianggap sebagai hal yang setara dengan fakta, bahkan tak jarang
dianggap lebih benar dari fakta. Ada keyakinan bahwa kepercayaan akan
membawanya kepada hasil yang lebih baik daripada jika ia tidak mengikuti apa yang
dipercayainya. Meskipun terbentuknya kepercayaan sangat dipengaruhi oleh
pengalaman tetapi pada akhirnya kepercayaan melampaui pengalaman, melampaui
fakta empiris. Orang yang percaya kepada adanya kekuatan gaib, misalnya, akan
memasukkan kemungkinan-kemungkinan keterlibatan kekuatan itu dalam proses
pengambilan keputusannya. Orang yang percaya bahwa alam telah mengatur
segalanya cenderung tidak mau melakukan perubahan pada alam.
Gaya kognitif merujuk kepada
kecenderungan penggunaan pola dan struktur tertentu dalam menerima, mengolah,
menyimpan dan menggunakan informasi. Ada orang yang cenderung mau menerima
banyak informasi apapun isinya dan ada orang yang membatasi jenis informasi apa
yang mau diterimanya. Ada orang yang cenderung menggunakan berbagai sudut
pandang dalam mendekati dan menyelesaikan suatu permasalahan, di sisi lain ada
orang yang cenderung menggunakan satu sudut pandang saja. Ada orang yang
terbiasa melakukan penalaran sistematik, berusaha memahami suatu permasalahan
secara komprehensif dari berbagai sisi sebelum memutuskan, dan ada orang yang
memutuskan hanya berdasarkan satu sisi pemahaman. Perilaku pemimpin dan
kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh gaya kognitif. Pemimpin yang cenderung mau
menerima banyak informasi mampu menggunakan banyak sudut pandang dalam
menyelesaikan masalah dan berusaha memahami secara komprehensif berbagai aspek
sebelum mengambil keputusan. Sementara pemimpin yang tidak terbuka terhadap
banyak informasi akan mengambil keputusan berdasarkan keyakinannya saat ini tanpa
pertimbangan-pertimbangan lain.
Bakat, meskipun bukan faktor utama,
merupakan faktor penting dalam kepemimpinan. Bakat di sini diartikan sebagai
predisposisi (kecenderungan dalam diri seseorang) yang menunjang dan
memudahkannya mempelajari serta menguasai suatu keterampilan. Mereka yang
berbakat lebih cepat menguasai persoalan dan menyelesaikannnya dibandingkan
mereka yang tidak berbakat. Seseorang yang memiliki kecerdasan serta kepekaan
sosial tinggi lebih memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dan menguasai
persoalan kepemimpinan. Orang yang memiliki bakat kepemimpinan lebih mudah
belajar dan mempraktekkan perilaku kepemimpinan. Kecerdasan, kepekaan emosional
dan kepedulian sosial, kegesitan dan ketangkasan dalam bertindak, serta kemauan
untuk terlibat dalam persoalan banyak orang menjadi modal bagi pengembangan
kemampuan kepemimpinan seseorang.
Faktor-faktor kepribadian membentuk
karakter kepemimpinan serta menentukan pola dan gaya kepemimpinan seseorang.
Berpadu dengan faktor pengetahuan dan kemampuan yang kemudian dikembangkan
menjadi keterampilan (kemampuan dengan derajat keahlian tertentu), faktor
kepribadian akan membentuk kualitas psikologis dari kepemimpinan. Faktor
kepribadian, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan menjadi dasar bagi
interaksi seorang manusia dengan manusia lain. Sebagai contoh, orang dengan
motif kebutuhan prestasi akan senang dengan persaingan dan selalu ingin
mendapatkan hasil yang lebih baik. Sedangkan orang yang memiliki kebutuhan
kekuasaan akan selalu ingin mempengaruhi dan menguasai orang lain. Dengan
kemampuan yang tinggi orang yang memiliki kebutuhan berprestasi dapat mencapai
prestasi tinggi. Sedangkan orang yang punya kebutuhan kekuasaan akan menjadi
penguasa yang mampu mempertahankan dan mengembangkan kekuasaannya.
Setelah memahami aspek psikologis,
pemahaman terhadap aspek sosiologis, kultural, politis, historis, geografis,
teknis dan ekonomis menjadi syarat berikutnya bagi pemahaman tentang
kepemimpinan. Di dalam konteks yang meliputi semua aspek itu kepemimpinan lahir,
berkembang dan memberi pengaruh. Perilaku kepemimpinan tertentu yang
menghasilkan perbaikan dalam suatu masyarakat bisa jadi tidak memberikan
manfaat di masyarakat lain. Kondisi politik tertentu, misalnya kondisi kritis,
akan menjadikan tindakan kepemimpinan yang tegas dan otoriter berguna bagi
penyelesaian banyak masalah, sementara dalam kondisi yang stabil tindakan itu
malah menyebabkan stagnasi masyarakat. Dalam kondisi geografis seperti di
kebanyakan wilayah Asia kepemimpinan yang mementingkan harmoni dengan alam
tanpa melakukan perubahan lingkungan fisik menjadi hal yang baik, sementara di
Eropa yang memiliki musim dingin, kepemimpinan semacam itu tidak menghasilkan
perbaikan kondisi masyarakat.
Aspek kultural menentukan apakah suatu
tindakan kepemimpinan dinilai baik atau buruk. Penilaian itu umumnya didasari
oleh petimbangan aspek sosial dan geografis yang pada prakteknya terkait erat
dengan aspek teknis dan ekonomis. Bagaimana mencapai tujuan bersama secara
efektif dan efisien menjadi dasar pertimbangan aspek teknis dan ekonomis.
Bagaimana memudahkan manusia untuk mencapai kesejahteraan, mencapai tujuan
hidup yang paling luhur, itulah persoalan utama dari kepemimpinan.
Kepemimpinan yang lahir dan berkembang
dalam interaksi manusia untuk mencapai tujuan bersama selalu mementingkan
sinergi berbagai aspek dari kondisi itu. Pada prakteknya semua aspek dan faktor
itu saling menjalin membentuk gaya, pola dan struktur kepemimpinan. Oleh karena
itu, kepemimpinan menjadi hal yang sangat kompleks dan tidak dapat dipahami
lepas dari konteksnya.
Setelah mengenali aspek dan faktor
kepemimpinan kita dapat mencari tahu bagaimana kepemimpinan dapat ditumbuhkan,
dipelajari dan dikuasai. Untuk menumbuhkan kepemimpinan pada diri seseorang,
pertama-tama orang itu harus mengenal konteks tempat ia hidup. Dengan kata lain
ia harus memahami kondisi interaksi manusia yang bekerja sama untuk mencapai
tujuan tertentu. Ia pun tentu saja harus memahami aspek dan faktor
kepemimpinan. Kepemimpinan sebagai proses dan selalu tampil sebagai sebuah
relasi dengan kelompok manusia menuntut orang itu untuk masuk dalam kelompok,
terlibat dan mengambil tindakan aktif di sana. Seperti belajar berenang atau
mengendarai sepeda, orang harus menyertakan tindakan praktis untuk dapat
memiliki kemampuan kepemimpinan. Pembelajaran teoritis saja tidak mungkin
menghasilkan penguasaan tentang kepemimpinan. Belajar kepemimpinan adalah
melakukan tindakan kepemimpinan. Belajar kepemimpinan adalah langsung
mempraktekkan kemampuan kepemimpinan di lapangan.
Tidak ada kerangka tindakan atau
seperangkat panduan praktis bagi kepemimpinan karena setiap konteks akan
menuntut tindakan yang berbeda. Tidak ada resep bagi kepemimpinan dan bagaimana
menjadi pemimpin. Seperti pesilat yang tidak lagi mengingat jurus saat
bertarung, ikut saja dalam irama pertarungan dan bereaksi secara spontan
menanggapi lawan, pemimpin bertindak dalam konteks yang melingkupinya,
menanggapi masalah yang datang bertubi-tubi, mengambil keputusan dengan
pertimbangan berdasarkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Seperti seorang
pendaki yang menjadikan medan pendakian dasar pertimbangannya, seorang pemimpin
menjadikan kondisi interaksi manusia tempat ia berada sebagai pijakan bagi
tindakan-tindakannya. Kepemimpinan adalah kesadaran akan keberadaan diri di
tengah interaksi manusia, pemahaman menyeluruh tentang konteks
psikologis-sosial-budaya-historis-geografis-teknis-ekonomis, kesiapan
menanggapi berbagai kejadian, kecermatan mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah, kesigapan tindakan, kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan,
keselarasan yang mempertemukan kepentingan berbagai pihak, serta sinergi
keseluruhan unsur dalam proses pencapaian tujuan bersama.
Yang dibutuhkan oleh kepemimpinan
adalah strategi dan kesiapan psikologis. Strategi terwujud dalam kerangka
pikiran, frame of reference, kerangka
orientasi, peta kognitif atau skema yang memberi petunjuk tentang berbagai
kemungkinan tindakan kepemimpinan dalam berbagai situasi. Strategi itu didasari
oleh kesiapan psikologis yang dibutuhkan dalam kepemimpinan.
Setidaknya ada tiga kualitas psikologis
yang menjadi unsur dari kesiapan psikologis yaitu: (1) keterbukaan pikiran; (2)
kemampuan berpikir kritis; dan (3) kreativitas.
Keterbukaan
pikiran dibutuhkan untuk memahami konteks kepemimipinan secara menyeluruh.
Mengingat konteks kepemimpinan adalah suatu kondisi dinamis yang terus bergerak
dan berubah maka pemahaman terhadapnya harus dilakukan secara terus-menerus.
Tanpa keterbukaan pikiran, sulit bagi seseorang untuk mencermati secara menyeluruh
proses pergerakan dan perubahan itu. Kegiatan pemahaman dan pencermatan di sini
adalah kegiatan berpikir, menalar pergerakan dan perubahan serta pengaruhnya
terhadap proses pencapaian tujuan bersama. Oleh karena itu keterlibatan pikiran
yang terbuka menjadi penting dalam kepemimpinan.
Berpikir kritis dibutuhkan dalam
pengolahan informasi dan pembuatan keputusan. Setiap saat seseorang yang
terlibat dalam kepemimpinan selalu berhadapan dengan informasi, baik dari hasil
observasi, media massa, iklan, buku, juga dari orang-orang yang ada di
sekelilingnya. Informasi digunakan untuk membuat analisis dan kesimpulan yang
akan dituangkan dalam penentuan berbagai keputusan. Setiap orang bisa salah
dalam mengambil kesimpulan atau keputusan karena menggunakan informasi yang
tidak tepat. Seorang yang ingin menguasai kepemimpinan perlu melatih
kemampuannya menimbang informasi secara cermat agar saat terjun ke masyarakat
ia dapat memberikan masukan-masukan yang tepat dan membantu masyarakatnya
terhindar dari kerugian akibat kesalahan menggunakan informasi. Berpikir kritis
memperbesar kemungkinan manusia memperoleh informasi yang benar. Informasi yang
benar sangat membantu manusia mengambil tindakan yang tepat. Berpikir kritis di
sini didefinisikan sebagai usaha yang
dilakukan secara aktif, sistematis dan mengikuti prinsip-prinsip logika serta
mempertimbangkan berbagai sudut pandang untuk memahami dan mengevaluasi suatu
informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima, ditolak atau
ditangguhkan penilaiannya. Dengan melakukan pertimbangan yang
hati-hati dan cermat sebelum memberi penilaian atau judgement, seseorang
bisa terhindar dari penggunaan informasi yang menyesatkan. Inti dari berpikir
kritis adalah tidak begitu saja menerima sesuatu apa adanya. Seorang yang
berpikir kritis akan menanggapi secara hati-hati informasi-informasi yang
diperolehnya. Sebelum ia mengambil keputusan tentang sebuah informasi, ia
terlebih dahulu menimbang-nimbang informasi itu dengan cermat, sistematis dan
memanfaatkan informasi-informasi tambahan yang mungkin ia peroleh.
Kualitas berikutnya adalah kreativitas.
Pengertian kreativitas adalah kemampuan
untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data atau informasi yang tersedia,
dilakukan melalui kegiatan menemukan berbagai kemungkinan solusi serta
didasarkan pada kriteria kelancaran, keaslian, keluwesan, kemampuan
mengelaborasi, dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan kombinasi baru yang
dihasilkan. Kepemimpinan menuntut kemampuan itu untuk dapat bekerja
secara efektif dan efisien dalam usaha pencapaian tujuan mencapai kesejahteraan
masyarakat. Secara umum kreativitas dibutuhkan untuk menciptakan hal-hal baru
yang menjawab masalah dan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang ada dalam
masyarakat. Pada awalnya adalah adanya kesenjangan antara yang diinginkan
dengan kenyataan yang ada. Dengan kata lain, ada kebutuhan yang tidak dapat
dipenuhi oleh apa yang ada. Kesenjangan antara kebutuhan dengan alat pemenuh
kebutuhan ini menuntut seseorang untuk mengurangi bahkan menghapus kesenjangan
itu dengan menciptakan produk-produk baru. Produk-produk baru itu diharapkan
kemudian dapat memenuhi kebutuhan. Selain produknya yang baru, cara-cara
produksi, teknik dan metode yang digunakan juga dituntut untuk diperbaharui.
Hal ini berkaitan erat dengan efisiensi dan tingkat produktivitas kerja. Dengan
adanya cara, teknik dan metode baru yang lebih baik diharapkan biaya dapat
menjadi lebih murah, penggunaan bahan baku lebih sedikit untuk hasil yang lebih
baik, dan penggunaan sumber daya alam lebih hemat.
Dari uraian di atas dapat dipahami
bahwa untuk menumbuhkan kepemimpinan pada diri seseorang bukan mengajarkan
panduan tindakan konkret yang perlu dipersiapkan tetapi menumbuhkan kesiapan
psikologis yang perlu dikembangkan. Menghafalkan sederetan langkah yang menjelaskan
bagaimana memimpin hanya berguna dalam satu konteks tertentu dan kehilangan
kegunaannya dalam konteks yang lain. Kepemimpinan juga mencakup kemampuan untuk
menghasilkan rangkaian tindakan yang tepat dalam berbagai konteks. Seseorang
dengan kemampuan kepemimpinan yang memadai bukan penjiplak langkah orang lain
tetapi pencipta langkah sendiri. Ia juga selalu siap untuk membuat tindakan
efektif dan efisien sebagai pemimpin dalam situasi dan kondisi yang
dihadapinya, kapan dan di manapun. Untuk itulah kesiapan psikologis
kepemimpinan harus dimilikinya. Pada kenyataannya, kepemimpinan adalah
kemampuan manusia untuk menempatkan diri secara proporsional dan strategis
dalam dunia tempat ia tinggal bersama manusia-manusia lain. Lebih jauh lagi,
kepemimpinan adalah bagaimana menjadi manusia yang hidup dan berarti.
Oleh : Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
Istilah kategori (category) berasal dari kata
Yunani Kuno kategoria, diturunkan dari kata berarti ‘membedakan’,
‘memilah’, ‘memisahkan’ atau ‘melawan’ dan agoreuein yang berarti
‘menyatakan’ atau ‘menegaskan’. Kategori dapat diartikan sebagai menyatakan
perbedaan atau pemilahan. Secara umum, kategori merupakan karateristik yang
sangat umum atau cara bagi sesuatu untuk mengada. Sederetan kategori berusaha
untuk mencakup seluruh jenis kualitas dan karakteristik yang dimiliki oleh
semua benda. Kategori-kategori ini dianggap sebagai suatu ‘universal’.
Universals adalah idea yang mewakili semua gejala yang mempunyai sifat-sifat
tertentu (Bittle, 1950). Aristoteles membagi segala sesuatu dalam sepuluh
kategori mencakup (1) substansi’ (2) kualitas, (3) kuantitas atau ukuran, (4)
relasi (relatio), (5) aksi (actio), (6) reaksi atau terkena aksi
(pasif, menderita, pasio), (7) waktu (kapan), (8) lokasi (dimana), (9) posisi (dalam arti posisi fisik atau posture, silus)
dan (10) memiliki atau mengenakan (habitus).
[ii] Hal-hal
yang termasuk dalam kategori relasi adalah hal-hal yang keberadaannya hanya
dimungkinkan oleh keberadaan hal lain. Tulisan ini hendak menunjukkan perbedaan
antara kategori relasi dan kategori substansi. Benda-benda yang termasuk dalam kategori
substansi adalah benda-benda yang keberadaannya tidak membutuhkan atau
mensyaratkan keberadaan benda-benda lain. benda dalam kategori subtansi dapat
dengan tegas dipilah dan dibedakan dari benda lainnya.
[iii] Politics adalah buku karya Aristoteles tentang
kehidupan bermasyarakat termasuk tentang pemimpin. Istilah ‘politic’ dalam karya ini merujuk kepada
kehidupan bermasyarakat untuk mencapai tujuan bersama, bukan dalam pengertian
politik sebagai ajang perolehan kekuasaan.
[iv] Tentang
temperamen, Allport (1937) dalam Personality:
A psychological interpretation menyatakan, “Temperament refers to
the characteristic phenomena of an individual’s emotional nature, including his
susceptibility to emotional stimulation, his customary strength and speed of
response, the quality of his prevailing mood, and all peculiarities of
fluctuation and intensity in mood; these phenomena being regarded as dependent
upon constitutional make-up, and therefore largerly hereditary in origin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar