Oleh : Dr. H.
Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
I.
Pendahluan
Dalam
situasi dan kondisi bagaimana pun, jika seseorang berusaha untuk mempengaruhi
perilaku orang lain, maka aktivitas seperti itu telah melibatkannya ke dalam
aktivitas kepemimpinan. Jika kepemimpinan tersebut terjadi dalam suatu
organisasi tertentu dan seseorang berupaya agar tujuan organisasi tercapai,
maka orang tersebut perlu memikirkan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan
dapat dianggap sebagai “modalitas” dalam kepemimpinan, dalam arti sebagai
cara-cara yang disenangi dan digunakan oleh seseorang sebagai wahana untuk
menjalankan kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang
digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku
orang lain.Atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola
perilaku yang konsisten ditunjukkan dan sebagai yang diketahui oleh pihak lain
ketika seseorang berusaha mempengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain. Perilaku
ini dikembangkan setiap saat dan yang dipelajari oleh pihak lain untuk mengenal
ataupun menilai kepemimpinan seseorang. Namun demikian, gaya kepemimpinan
seseorang tidaklah bersifat “fixed”. Maksudnya adalah bahwa seorang pemimpin
mempunyai kapasitas untuk membaca situasi yang dihadapinya dan menyesuaikan
gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi tersebut, meskipun penyesuaian itu
mungkin hanya bersifat sementara. Pada pihak lain, setiap pemimpin mempunyai
sifat, kebiasaan, temperamen atau watak, dan kepribadian sendiri yang
unik/khas, sehingga tingkah laku dan gayanyalah yang membedakannya dari orang
lain. Gaya/style hidupnya ini pasti akan mewarnai perilaku dan tipe
kepemimpinannya.
Landasan teori
Tipe kepemimpinan seseorang
menurut Sondang P Siagian (1994: 27-45) dapat dianalisis dengan menggunakan
kategorisasi berdasarkan:
1.
Persepsi
seorang pemimpin tentang peranannya selaku pemimpin
2.
Nilai-nilai yang dianut
3.
Sikap
dalam mengemudikan jalannya organisasi
4.
Perilaku dalam memimpin
5.
Gaya
kepemimpinan yang dominant
Prinsip pertama dalam
kepemimpinan adalah adanya hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Tanpa
yang dipimpin tidak ada orang yang perlu memimpin. Prinsip kedua adalah bahwa
pemimpin yang efektif menyadari dan mengelola secara sadar dinamika hubungan
antara pemimpin dengan yang dipimpin (Richard Beckhard, 1995:125-126).
Keberhasilan seorang
pemimpin dalam melaksanakan fungsinya tidak hanya ditentukan oleh salah satu
aspek semata-mata, melainkan antara sifat, perilaku, dan kekuasaan-pengaruh
saling menentukan sesuai dengan situasi yang mendukungnya. Kekuasaan-pengaruh
mempunyai peranan sebagai daya dorong bagi setiap pemimpin dalam mempengaruhi,
menggerakkan, dan mengubah perilaku yang dipimpinnya ke arah pencapaian tujuan
organisasi.
Kekuasaan
Konsepsi mengenai
kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari kemampuan, kewibawaan, dan kekuasaan.
Seorang pemimpin, karena status dan tugas-tugasnya pasti mempunyai kekuasaan.
Kekuasaan merupakan kapasitas untuk mempengaruhi secara unilateral sikap dan
perilaku orang ke arah yang diinginkan (Gary Yukl,1996: 183).
Konsepsi mengenai sumber
kekuasaan yang telah diterima secara luas adalah dikotomi antara “position
power” (kekuasaan karena kedudukan) dan “personal power” (kekuasaan pribadi).
Menurut konsep tersebut, kekuasaan sebagian diperoleh dari peluang yang melekat
pada posisi seseorang dalam organisasi dan sebagian lagi disebabkan oleh
atribut-atribut pemimpin tersebut serta dari hubungan pemimpin – pengikut.
Termasuk dalam position power adalah kewenangan formal, kontrol terhadap sumber
daya dan imbalan, kontrol terhadap hukuman, kontrol terhadap informasi, kontrol
ekologis. Sedangkan personal power berasal dari keahlian dalam tugas,
persahabatan, kesetiaan, kemampuan persuasif dan karismatik dari seorang
pemimpin (Gary Yukl,1996:167-175). Dengan bahasa yang sedikit berbeda, Kartini
Kartono (1994:140) mengungkapkan bahwa sumber kekuasaan seorang pemimpin dapat
berasal dari
a. Kemampuannya untuk mempengaruhi
orang lain;
b. Sifat dan sikapnya yang unggul, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
c. Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas;
d. Memiliki kemahiran human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi.
b. Sifat dan sikapnya yang unggul, sehingga mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
c. Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang luas;
d. Memiliki kemahiran human relation yang baik, kepandaian bergaul dan berkomunikasi.
Kekuasaan merupakan kondisi
dinamis yang dapat berubah sesuai perubahan kondisi dan tindakan-tindakan
individu atau kelompok. Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana
kekuasaan diperoleh, dipertahankan atau hilang dalam organisasi. Teori tersebut
adalah
* Social Exchange Theory, menjelaskan
bagaimana kekuasaan diperoleh dan hilang selagi proses mempengaruhi yang timbal
balik terjadi selama beberapa waktu antara pemimpin dan pengikut. Fokus dari
teori ini mengenai expert power dan kewenangan.
* Strategic Contingencies Theory,
menjelaskan bahwa kekuasaan dari suatu subunit organisasi tergantung pada
faktor keahlian dalam menangani masalah penting, sentralisasi unit kerja dalam
arus kerja, dan tingkat keahlian dari subunit tersebut.
Para pemimpin membutuhkan kekuasaan
tertentu untuk dapat efektif, namun hal itu tidak berarti bahwa lebih banyak
kekuasaan akan lebih baik. Jumlah keseluruhan kekuasaan yang diperlukan bagi
kepemimpinan yang efektif tergantung pada sifat organisasi, tugas, para
bawahan, dan situasi. Pemimpin yang mempunyai position power yang cukup, sering
tergoda untuk membuat banyak orang tergantung padanya daripada mengembangkan
dan menggunakan expert power dan referent power. Sejarah telah menunjukkan
bahwa pemimpin yang mempunyai position power yang terlalu kuat cenderung
menggunakannya untuk mendominasi dan mengeksploatasi pengikut. Sebaliknya,
seorang pemimpin yang tidak mempunyai position power yang cukup akan mengalami
kesukaran dalam mengembangkan kelompok yang berkinerja tinggi dalam organisasi.
Pada umumnya, mungkin lebih baik bagi seorang pemimpin untuk mempunyai position
power yang sedang saja jumlahnya, meskipun jumlah yang optimal akan bervariasi
tergantung situasi.
Sedangkan dalam personal power,
seorang pemimpin yang mempunyai expert power atau daya tarik karismatik sering
tergoda untuk bertindak dengan cara-cara yang pada akhirnya akan mengakibatkan
kegagalan.
Pengaruh
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.
Jenis-jenis spesifik perilaku yang digunakan untuk mempengaruhi dapat dijadikan jembatan bagi pendekatan kekuasaan dan pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan.
Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.
Jenis-jenis spesifik perilaku yang digunakan untuk mempengaruhi dapat dijadikan jembatan bagi pendekatan kekuasaan dan pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan.
Sejumlah studi telah mengidentifikasi
kategori perilaku mempengaruhi yang proaktif yang disebut sebagai taktik
mempengaruhi, antara lain :
* Persuasi Rasional:
Pemimpin menggunakan argumentasi logis
dan bukti faktual untuk mempersuasi pengikut bahwa suatu usulan adalah masuk
akal dan kemungkinan dapat mencapai sasaran.
* Permintaan Inspirasional:
Pemimpin membuat usulan yang
membangkitkan entusiasme pada pengikut dengan menunjuk pada nilai-nilai, ide
dan aspirasi pengikut atau dengan meningkatkan rasa percaya diri dari pengikut.
* Konsultasi:
Pemimpin mengajak partisipasi pengikut
dalam merencanakan sasaran, aktivitas atau perubahan yang untuk itu diperlukan
dukungan dan bantuan pengikut atau pemimpin bersedia memodifikasi usulan untuk
menanggapi perhatian dan saran dari pengikut.
* Menjilat:
Pemimpin menggunakan pujian, rayuan,
perilaku ramah-tamah, atau perilaku yang membantu agar pengikut berada dalam
keadaan yang menyenangkan atau mempunyai pikiran yang menguntungkan pemimpin
tersebut sebelum meminta sesuatu.
* Permintaan Pribadi:
Pemimpin menggunakan perasaan pengikut
mengenai kesetiaan dan persahabatan terhadap dirinya ketika meminta sesuatu.
* Pertukaran:
Pemimpin menawarkan suatu pertukaran
budi baik, memberi indikasi kesediaan untuk membalasnya pada suatu saat nanti,
atau menjanjikan bagian dari manfaat bila pengikut membantu pencapaian tugas.
* Taktik Koalisi:
Pemimpin mencari bantuan dari orang
lain untuk mempersuasi pengikut agar melakukan sesuatu atau menggunakan
dukungan orang lain sebagai suatu alasan bagi pengikut untuk juga
menyetujuinya.
* Taktik Mengesahkan:
Pemimpin mencoba untuk menetapkan
validitas permintaan dengan menyatakan kewenangan atau hak untuk membuatnya
atau dengan membuktikan bahwa hal itu adalah konsisten dengan kebijakan,
peraturan, praktik atau tradisi organisasi.
* Menekan:
Pemimpin menggunakan permintaan,
ancaman, seringnya pemeriksaan, atau peringatan-peringatan terus menerus untuk
mempengaruhi pengikut melakukan apa yang diinginkan.
Pilihan mengenai perilaku mempengaruhi
tergantung pada position power dan personal power yang dimiliki pemimpin
terhadap orang yang dipimpinnya pada situasi tertentu. Perilaku mempengaruhi
seorang pemimpin secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang
dipimpin baik berupa komitmen, kepatuhan maupun perlawanan. Hasil dari proses
mempengaruhi, juga mempunyai efek umpan balik terhadap perilaku pemimpin.Selain
itu, dampak kekuasaan pemimpin pada dasarnya tergantung pada apa yang dilakukan
pemimpin dalam mempengaruhi orang yang dipimpin.Dengan demikian, hasil dari
usaha mempengaruhi merupakan akumulasi dari keterampilan mempengaruhi, perilaku
mempengaruhi, dan kekuasaan pemimpin.
III.1
KESIMPULAN
Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak
dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka
satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya
memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan
yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat –
sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat
berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.
Rahasia utama
kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya,
bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati
selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar
melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan
lahir dari proses internal (leadership from the inside out).
2.
SARAN
Sangat
diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa
kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk
memimpin diri sendiri.
Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan
menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin
memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan
baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu
kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka
makin kuat pula yang dipimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar