Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
Terkadang kita harus mencari banyak hal
tentang bagaimana mengawali proses perubahan, banyak orang melakukan proses
perubahan tanpa mengetahui secara pasti tentang dari mana awal kita akan
melakukan perubahan. Kalau kita cermati awal terjadinya sebuah perubahan dapat
dilihat dari sumber terjadinya perubahan yaitu perubahan yang diawali oleh
pribadi kita sebagai manusia. Pendekatan
ini dapat kita lihat dikarenakan respon yang dilakukan oleh manusia sebagai akibat
dari perintah Allah yang mengharuskan manusia untuk selalu beribadah didunia
ini.
Berangkat dengan kerangka berfikir bahwa
manusia adalah ciptaan Allah maka manusia harus mengikuti semua yang telah
diatur oleh Allah sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan alhadist. Menurut Al-Qur’an Allah berfirman : "Dan
tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah
kepada-Ku." ( QS Adz-Dzaariyaat[51]:56 ) Beribadah kepada
ALLAH bukanlah menyembah Allah saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima
saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu. Beribadah
kepada Allah SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk Allah dengan sungguh-sungguh.
Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan
apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini,
dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?
Keberadaan
manusia untuk bersungguh – sungguh melaksanakan semua kewajibannya dan
menjauhkan semua larangannya menjadikan manusia untuk selalu berusaha berbuat
yang terbaik dalam melaksanakan tugas dalam kehidupan ini. Namun dalam
perjalanan hidup tidak serta merta manusia secara mudah melakukan tugas
tersebut dikarenakan dalam diri manusia terdapat akal, budi dan nurani yang
menuntun jalan manusia kepada kebaikan dan selalu memberikan perintah kedalam
diri untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhkan laraangannya.
Banyak sekalai ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menyebut kata-kata seputar akal
atau penggunaanya, yaitu berfikir. Misalnya yang hadir dalam bentuk afala ta’qiluun (apakah
kamu tidak mengerti). Atau dalam ungkapan
“la’alakum ta’qiluun” (agar kalian memahaminya). Atau dalam ungkapan liqaumi ya’qiluun” (bagi
kaum yang berfikir). Juga dalam ungkapan “liqaumi
yatafakkaruun” (bagi kaum yang memikirkan). Semua ungkapan tentang
akal dalam ayat-ayat tersebut berkonotasi positif. Kita tahu bahwa akal
merupakan karunia Allah kepada manusia yang membedakan dan melebihkannya dari
seluruh makhluk yang lain. Dengan akal itulah Allah memuliakan anak cucu Adam
As., ini atas kebanyakan ciptaanNya. Akal merupakan alat manusia untuk
mentafakuri alam sehingga ia mendapat petunjuk untuk beriman kepada Allah dan
RasulNya. Akal pulalah yang dipakai manusia sebagai alat untuk menggali
ilmu-ilmu/sains eksperimental dan rahasia-rahasia alam untuk dimanfaatkan buat
kepentingan manusia.
Pada
sisi lain terdapat pula nafsu, ambisi, hasrat yang membuat manusia dapat hidup
lebih kreatif, lebih inovatif dan lebih mengembangkan dirinya sebagai manusia. Namun
terkadang terjadi tarik menarik atara keduanya, mengakibatkan cendrung manusia
lebih mengedepankan sisi nafsu yang didorong oleh syaitan untuk melakukan
banyak hal yang dilarang oleh Allah sedangkan akibat godaan tersebut maka
manusia terkadang menjadi terlena dan lupa untuk tetap beristiqomah/konsisiten
melaksanakan semua kewajibannya. Hal ini
sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:“tidak
beriman salah seorang dari kalian, hingga ia mengikutkan (menundukkan) hawa
nafsunya dengan (Islam) yang aku bawa” (HR. Imam An Nawawi dalam
Kitab Al Arba’in An Nawawiyyah)
Dalam Al Qur’an terdapat kata ‘nafsu’ yang berarti ‘hawa’ atau ‘hawa nafsu’, seperti : “Karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”. (QS. Yusuf 54) dan pada surat lain dalam aquran Allah berfirman: “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang syaitan menjadikan dia memandang baik perbuatannya dan mengikuti hawa nafsunya”. (QS. Muhammad 14). Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia melindungi kita dari buruknya hawa nafsu dan bisikan-bisikan syaitan. Juga kita memohon agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal yang mendapat petunjuk ke jalan-Nya yang lurus.
Dalam Al Qur’an terdapat kata ‘nafsu’ yang berarti ‘hawa’ atau ‘hawa nafsu’, seperti : “Karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”. (QS. Yusuf 54) dan pada surat lain dalam aquran Allah berfirman: “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang syaitan menjadikan dia memandang baik perbuatannya dan mengikuti hawa nafsunya”. (QS. Muhammad 14). Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia melindungi kita dari buruknya hawa nafsu dan bisikan-bisikan syaitan. Juga kita memohon agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal yang mendapat petunjuk ke jalan-Nya yang lurus.
Oleh
karena itu mengutip pandangan berifikir dari AA Gym yaitu resep perubahan 3M:
Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil, dan Mulai sekarang juga." yang
telah mengingatkan kita bahwa untuk menjadi manusia yang dapat menjalan apa –
apa yang menjadi kewajiban kita sebagai manusia kepada Allah SWT maka kita
harus melakukan perubahan yang diawali dari diri kita sendiri dalam hal memperbaiki
semua prilaku – prilaku kita yang telah menyimpang dan berpaling terhadap
ajaran Allah. Mengawali perubahan dari dalam diri kita ini memberikan tekanan
bahwa diri kita wajib melakukan perbaikan dan perubahan atas apa – apa yang
telah kita lakukan selama ini, mari kita mulai dari mengingat – ingat kembali
atas apa yang telah dilakukan selama kita hidup, mari kita mulai menelusuri
atas apa semua kesalahan dan dosa atas kelakukan kita selama ini dengan
membandingkan atas apa yang seharusnya kita kerjakan. Ketika kita lakukan fase
perenungan ini maka sebenarnya kita baru memulai atas sebuah fase perbaikan dan
perubahan, dimana fase ini adalah fase pembongkaran hati nurani, membuka
kejujuran diri dan mengorek aib diri untuk mensucikan hati yang pada gilirannya
hati ini menjadi gelisah dan menjadi bersalah atas kelakukan kita selama ini. Proses
perenungan ini adalah proses awal agar kita menyakini bahwa sebagai manusia
pasti berbuat salah dengan derajat kesalahan yang kita sendiri ketahui. Oleh karena
ini memasuki fase kedua maka manusia diwajibkan untuk meminta ampun kepada
Allah dengan permohonan agar semua dosa – dosanya dapat diampuni oleh Allah
SWT. Selanjutnya barulah manusia dapat mengawali perubahan dirinya menjadi
lebih baik dikarenakan hati manusia akan lebih terang untuk merasakan perubahan
– perubahan ketika diri manusia melakukan semua kewajibannya kepada Allah SWT. Hal
ini sesuai dengan firman Allah SWT yaitu “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar:
53). Sesungguhnya Allah sangat bahagia dan senang dengan taubatnya seorang
hamba dan kembali kepada-Nya. Hanya saja semua itu harus disertai dengan niat
yang tulus ikhlas karena Allah Ta’ala dan memperbanyak amal-amal shalih.
Untuk
mengawali perubahan maka manusia diwajibkan untuk selalu belajar, belajar dan
belajar. Hal ini sesuai dengan firman Allah. Qur’an surah Al-‘Alaq: kalimatnya
pendek, hanya lima hanya lima kata, “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu”.
Aturan menyebut nama Tuhan itu sudah dirinci menurut petunjuk Allah dalam
Qur’an dan sunnah Rasulullah, misalnya dalam melaksanakan ibadah dan
muamalah. Dalam kalimat pendek ini terkandung makna agar manusia wajib
beriman dan bertaqwa kepada Allah. Kepada Allah kita mengabdi, dan kepada-Nya
kita memohon pertolongan, seperti yang selalu kita baca berulang-ulang dalam
surah Al-Fatihah. Pembelajaran yang dilakukan oleh manusia
harus sepanjang hayat atas apa yang menjadikan pegangangan hidupnya. Manusia yang
ingin mengenal kepada Allah maka wajib selalu menggali ajaran agama Islam
melalui makna yang terkandung dalam kita suci Alquran dan berusaha untuk
melaksanakannya. Kemudian berusaha untuk belajar tentang alhadist tentang atas
apa – apa yang telah digaris oleh Nabi Muhammad SAW. Insya Allah apabila
manusia yang mengaku islam adalah agamanya dan Nabi Muhammad adalah Rasullnya
maka manusia muslim akan terhindar dari kesesatan fikiran dan tindakan sehingga
kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan tujuan yang benar tanpa ada
keraguan sedikitpun karena kebenaran datangnya dari Allah.
Semoga
bermafaat. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar