Selasa, 30 September 2014

MENGAWALI PERUBAHAN




Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si

Terkadang kita harus mencari banyak hal tentang bagaimana mengawali proses perubahan, banyak orang melakukan proses perubahan tanpa mengetahui secara pasti tentang dari mana awal kita akan melakukan perubahan. Kalau kita cermati awal terjadinya sebuah perubahan dapat dilihat dari sumber terjadinya perubahan yaitu perubahan yang diawali oleh pribadi kita sebagai manusia.  Pendekatan ini dapat kita lihat dikarenakan respon yang dilakukan oleh manusia sebagai akibat dari perintah Allah yang mengharuskan manusia untuk selalu beribadah didunia ini.
Berangkat dengan kerangka berfikir bahwa manusia adalah ciptaan Allah maka manusia harus mengikuti semua yang telah diatur oleh Allah sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan alhadist.  Menurut Al-Qur’an Allah berfirman : "Dan tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku." ( QS Adz-Dzaariyaat[51]:56 ) Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah Allah saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu. Beribadah kepada Allah SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk Allah dengan sungguh-sungguh. Setiap manusia haruslah mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas hidupnya, berapa lama dia bisa hidup di dunia ini, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini?
Keberadaan manusia untuk bersungguh – sungguh melaksanakan semua kewajibannya dan menjauhkan semua larangannya menjadikan manusia untuk selalu berusaha berbuat yang terbaik dalam melaksanakan tugas dalam kehidupan ini. Namun dalam perjalanan hidup tidak serta merta manusia secara mudah melakukan tugas tersebut dikarenakan dalam diri manusia terdapat akal, budi dan nurani yang menuntun jalan manusia kepada kebaikan dan selalu memberikan perintah kedalam diri untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhkan laraangannya. Banyak sekalai ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menyebut kata-kata seputar akal atau penggunaanya, yaitu berfikir. Misalnya yang hadir dalam bentuk afala ta’qiluun (apakah kamu tidak mengerti). Atau dalam ungkapan “la’alakum ta’qiluun” (agar kalian memahaminya). Atau dalam ungkapan liqaumi ya’qiluun” (bagi kaum yang berfikir). Juga dalam ungkapan “liqaumi yatafakkaruun” (bagi kaum yang memikirkan). Semua ungkapan tentang akal dalam ayat-ayat tersebut berkonotasi positif. Kita tahu bahwa akal merupakan karunia Allah kepada manusia yang membedakan dan melebihkannya dari seluruh makhluk yang lain. Dengan akal itulah Allah memuliakan anak cucu Adam As., ini atas kebanyakan ciptaanNya. Akal merupakan alat manusia untuk mentafakuri alam sehingga ia mendapat petunjuk untuk beriman kepada Allah dan RasulNya. Akal pulalah yang dipakai manusia sebagai alat untuk menggali ilmu-ilmu/sains eksperimental dan rahasia-rahasia alam untuk dimanfaatkan buat kepentingan manusia.
Pada sisi lain terdapat pula nafsu, ambisi, hasrat yang membuat manusia dapat hidup lebih kreatif, lebih inovatif dan lebih mengembangkan dirinya sebagai manusia. Namun terkadang terjadi tarik menarik atara keduanya, mengakibatkan cendrung manusia lebih mengedepankan sisi nafsu yang didorong oleh syaitan untuk melakukan banyak hal yang dilarang oleh Allah sedangkan akibat godaan tersebut maka manusia terkadang menjadi terlena dan lupa untuk tetap beristiqomah/konsisiten melaksanakan  semua kewajibannya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:“tidak beriman salah seorang dari kalian, hingga ia mengikutkan (menundukkan) hawa nafsunya dengan (Islam) yang aku bawa” (HR. Imam An Nawawi dalam Kitab Al Arba’in An Nawawiyyah)
Dalam Al Qur’an terdapat kata ‘nafsu’ yang berarti ‘hawa’ atau ‘hawa nafsu’, seperti : “Karena sesunguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”. (QS. Yusuf 54) dan pada surat lain dalam aquran Allah berfirman: “Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang syaitan menjadikan dia memandang baik perbuatannya dan mengikuti hawa nafsunya”. (QS. Muhammad 14). Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia melindungi kita dari buruknya hawa nafsu dan bisikan-bisikan syaitan. Juga kita memohon agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang berakal yang mendapat petunjuk ke jalan-Nya yang lurus.
Oleh karena itu mengutip pandangan berifikir dari AA Gym yaitu resep perubahan 3M: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil, dan Mulai sekarang juga." yang telah mengingatkan kita bahwa untuk menjadi manusia yang dapat menjalan apa – apa yang menjadi kewajiban kita sebagai manusia kepada Allah SWT maka kita harus melakukan perubahan yang diawali dari diri kita sendiri dalam hal memperbaiki semua prilaku – prilaku kita yang telah menyimpang dan berpaling terhadap ajaran Allah. Mengawali perubahan dari dalam diri kita ini memberikan tekanan bahwa diri kita wajib melakukan perbaikan dan perubahan atas apa – apa yang telah kita lakukan selama ini, mari kita mulai dari mengingat – ingat kembali atas apa yang telah dilakukan selama kita hidup, mari kita mulai menelusuri atas apa semua kesalahan dan dosa atas kelakukan kita selama ini dengan membandingkan atas apa yang seharusnya kita kerjakan. Ketika kita lakukan fase perenungan ini maka sebenarnya kita baru memulai atas sebuah fase perbaikan dan perubahan, dimana fase ini adalah   fase pembongkaran hati nurani, membuka kejujuran diri dan mengorek aib diri untuk mensucikan hati yang pada gilirannya hati ini menjadi gelisah dan menjadi bersalah atas kelakukan kita selama ini. Proses perenungan ini adalah proses awal agar kita menyakini bahwa sebagai manusia pasti berbuat salah dengan derajat kesalahan yang kita sendiri ketahui. Oleh karena ini memasuki fase kedua maka manusia diwajibkan untuk meminta ampun kepada Allah dengan permohonan agar semua dosa – dosanya dapat diampuni oleh Allah SWT. Selanjutnya barulah manusia dapat mengawali perubahan dirinya menjadi lebih baik dikarenakan hati manusia akan lebih terang untuk merasakan perubahan – perubahan ketika diri manusia melakukan semua kewajibannya kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yaitu “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53). Sesungguhnya Allah sangat bahagia dan senang dengan taubatnya seorang hamba dan kembali kepada-Nya. Hanya saja semua itu harus disertai dengan niat yang tulus ikhlas karena Allah Ta’ala dan memperbanyak amal-amal shalih.
Untuk mengawali perubahan maka manusia diwajibkan untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Hal ini sesuai dengan firman Allah. Qur’an surah Al-‘Alaq: kalimatnya pendek, hanya lima hanya lima kata, “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu”. Aturan menyebut nama Tuhan itu sudah dirinci menurut petunjuk Allah dalam Qur’an  dan sunnah Rasulullah, misalnya dalam melaksanakan ibadah dan muamalah.  Dalam kalimat pendek ini terkandung makna agar manusia wajib beriman dan bertaqwa kepada Allah. Kepada Allah kita mengabdi, dan kepada-Nya kita memohon pertolongan, seperti yang selalu kita baca berulang-ulang dalam surah Al-Fatihah. Pembelajaran yang dilakukan oleh manusia harus sepanjang hayat atas apa yang menjadikan pegangangan hidupnya. Manusia yang ingin mengenal kepada Allah maka wajib selalu menggali ajaran agama Islam melalui makna yang terkandung dalam kita suci Alquran dan berusaha untuk melaksanakannya. Kemudian berusaha untuk belajar tentang alhadist tentang atas apa – apa yang telah digaris oleh Nabi Muhammad SAW. Insya Allah apabila manusia yang mengaku islam adalah agamanya dan Nabi Muhammad adalah Rasullnya maka manusia muslim akan terhindar dari kesesatan fikiran dan tindakan sehingga kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan tujuan yang benar tanpa ada keraguan sedikitpun karena kebenaran datangnya dari Allah.
Semoga bermafaat. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar