Dr. H. Rachmat Maulana S.Sos, M.Si
Oliver Sheldon dalam Sutarto (2000:23) Organisasi adalah
Proses penggabungan pekerjaan yang para individu atau kelompok – kelompok harus
melakukan dengan bakat - bakat yang
diperlukan untuk melakukan tugas – tugas, sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik
untuk pemakaian yang efisien, sistematis, positif dan terkoordinasi dari usaha
yang tersedia
Chester Barnard
dalam Sutarto (2000:24) Organisasi adalah suatu sistem tentang aktivitas
– aktivitas kerjasama dari dua orang atau lebih sesuatu yang tak berwujud dan
tak bersifat pribadi sebagian besar mengenal
hal hubungan – hubungan.
Ralp Currier Davis dalam Sutarto (2000:24)
Organisasi adalah sesuatu kelompok orang – orang yang sedang bekerja ke arah
tujuan bersama di bawah kepemimpinan
Dwight Waldo dalam
Sutarto (2000:26) Organisasi adalah Struktur hubungan – hubungan di antara
orang - orang berdasarkan wewenang dan
bersifat tetap dalam suatu sistem
administrasi.
Dari berbagai definisi maka
dapat disimpulkan oleh Sutarto (2000:27)
bahwa pengertian organisasi mencakup
3 macam yaitu:
- Organisasi sebagai kumpulan orang
- Organisasi sebagai proses pembagian kerja
- Organisasi sebagai sistem kerja sama. Sistem hubungan atau sistem sosial
Menurut Sondang P. Siagian Hakekat (2003:19) Organisasi dapat dilihat dari dua sudut pandang
- Organisasi sebagai wadah yaitu tempat dimana kegiatan - kegiatan administrasi dan managemen dijalankan. Sebagai wadah organisasi relatif bersifat statis akan tetapi dalam kajian struktur selalu dipengaruhi oleh kondisi perkembangan internal maupun eksternal
- Organisasi sebagai proses yaitu menyoroti interaksi antara orang – orang di dalam organisasi itu, karenanya lebih bersifat dinamis yaitu terjadi hubungan – hubungan antara orang-orang baik formal maupun informal.
Perkembangan teori-teori organisasi
dapat dilihat dan dikaji sejak sejak tahun-tahun pertama abad kedua puluh,
Menurut Donnely, Gibson, Ivancevish; (1983:23),
dalam bukunya Organisasi dan Manajemen, yang
secara garis besar dapat diikhtisarkan menjadi 4 (empat) kelompok besar yakni:
(1) classic; (2) behavioral, (3) system, dan (4) contingency.
1. Classic
Pada mulanya teori
administrasi/manajemen atau organisasi telah dirancang secara
tradisional/klasik. Terdapat 3 kategori pokok pendekatan klasik ini: (1) scientific
management; (2) administrative management; dan (3) the bureaucratic
model of organization (Beach, 1980: 133).
a. Scientific
management.
Pendiri
gerakan manajemen ilmiah ini adalah Frederick W. Taylor (1856-1915), seorang
insinyur dan ahli manajemen Amerika. Dia tidak menciptakan teori umum mengenai
organisasi; namun hanya mengusulkan sejumlah teknik dan filsafat yang
diturunkan dari pengalamannya yang lebih luas di bidang manajemen dan
konsultan. Dia menaruh perhatian pada manajemen pabrik dan efisiensi,
memperkenalkan konsep dan teknik analisa/studi jabatan, analisa waktu,
standarisasi jabatan, spesialisasi tugas, penentuan keseimbangan kerja, seleksi
pegawai secara teliti, teknik pelatihan staf, dan kompensasi berupa insentif
gaji untuk membantu mencapai hasil kerja yang lebih tinggi.
Taylor
memindahkan tanggungjawab kegiatan perencanaan yang semula ditangani para
pekerja (bawahan) diserahkan kepada seorang spesialis manajemen. Dia juga
memperkenalkan sistem pengelolaan pabrik yang disebut dengan functional
foremanship (kepengawasan fungsional yang dilakukan para mandor). Meskipun
tidak bertahan lama, sistem ini merupakan pembuka jalan ke arah perluasan
perencanaan staf dan sistem pengawasan di pabrik-pabrik.
Secara
umum, kita memandang bahwa gerakan manajemen ilmiah yang dipelopori Taylor
diarahkan pada pencapaian produktivitas kerja yang tinggi, keuntungan yang
lebih besar, biaya murah, dan sistem pengawasan mesin-manusia yang lebih
efektif.
b. Administrative
Management.
Kalau
scientific management memfokuskan perhatiannya pada organisasi dari level
manajemen bawah, maka para teoritisi manajemen administratif memandang
organisasi dari puncak (from the top-down). Para pemuka manajemen administratif
ini antara lain: Henri Fayol, seorang industrialis Perancis; L. Gulick,
spesialis administrasi publik dan akademisi; Lyndall Urwick, seororang
teoritisi dan konsultan Inggris; James D. Mooney dan Alan C Reiley, pimpinan
dari General Motor, Amerika (Burhanuddin, 1994).
Para
teoritisi manajemen adminisitratif tersebut mengumandangkan prinsip-prinsip
organisasi dan manajemen secara umum. Meskipun prinsip-prinsip yang mereka
kemukakan berbeda satu sama lain, namun pada umumnya mereka mempunyai kesatuan
proposisi sebagai berikut :
- Spesialisasi fungsi dan pembagian kerja penting bagi efisiensi.
- Tanggung jawab dan kekuasaan supervisor dan manajer harus dilukiskan secara jelas. Di sana harus terdapat garis kekuasaan secara jelas, dari atas ke bawah. Kekuasaan harus mengalir dari atas ke bawah, melalui struktur organisasi yang ada. Tanggung jawab harus sepadan dengan kekuasaan. Setiap anggota organisasi hanya memiliki satu pimpinan atau komando (unity of command).
- Koordinasi fungsi dan anggota kelompok harus dilakukan oleh manajer di setiap unit.
- Segala perintah, informasi dan pengaduan-pengaduan harus disalurkan melalui garis kekuasaan yang sudah ditetapkan.
- Jumlah bawahan yang harus diawasi oleh seorang supervisor dibatasi antara 5 atau 6 orang. Namun belakangan formulasi demikian tidak begitu diterima, dan diperluas dengan batasan jumlah orang-orang yang diawasi sesuai dengan situasi atau kompleksitas kerja atau faktor-faktor lain.
- Pertama-tama, rancanglah organisasi dan tugas-tugas kemudian temukanlah orang-orang yang dapat menangani tugas-tugas yang telah dirumuskan tersebut. Janganlah membentuk pekerjaan (job) untuk dicocokkan pada kemampuan dan minat individual.
c. Bureaucratic Model
Konsep
model birokrasi ini berasal dari Sosiolog Jerman Max Weber, yang banyak
menghasilkan karya tulis pada tahun 1900-1920. Weber memandang dunia, khususnya
masyarakat, secara sekular dan rasional. Di dalam membangun dan mengoperasikan
suatu lembaga manusia yang terlibat di dalamnya, cenderung mendasarkan
tindakannya pada pengetahuan, pengambilan keputusan rasional, teknologi dan
sangat sedikit sekali pada hal-hal mistik dan gaib. Dia memandang birokrasi
yang ada di organisasi merupakan alat yang sangat efisien dalam mengoperasikan
organisasi-organisasi yang berskala besar, baik swasta maupun milik pemerintah.
Ciri-ciri pokok
birokrasi ini adalah :
- Pembagian kerja yang tegas dan spesialisasi yang tinggi,
- Setiap biro yang ada di bawah berada di bawah kontrol yang lebih tinggi (hierarkis),
- Sistem pemerintahan diadministrasikan secara obyektif,
- Penempatan tenaga kerja, penugasannya didasarkan pada kualifikasi, bukan pada hubungan sanak famili atau favoritas.
- Adanya keamanan kerja bagi bawahan, dan
- Penggunaan catatan, dokumen, dan arsip-arsip secara ekstensif.
2. Behavioral Science
Para penyokong bidang ini, mulai
kerjanya dari tahun 1920-an sampai dengan awal 1950-an (dalam Robbin, Stephen P; Teori
Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi,) Mereka dinamakan human relationist. Pada
tahun-tahun itu mereka tidak disebut sebagai ilmuwan behavioral. Pada pokoknya
mereka sebenarnya adalah para psikolog dan sosiolog industri milik Perguruan
Tinggi. Industri privat adalah laboratorium mereka. Penemuan-penemuan (riset)
Elton Mayo dan teman-temannya di Universitas Harvard terhadap Hawthorne Works
or The Western Electric Company di Chicago menandai munculnya gerakkan human
relation ini. Penelitian tersebut berlangsung sejak tahun 1927 sampai pada
tahun 1932. Rangkaian studi ini membuktikan kunci pentingnya tekanan-tekanan
kelompok, hubungan sosial, dan sikap terhadap supervisi dan pekerjaan yang
menentukan produktivitas kelompok.
Kalau
teoritisi organisasi klasik menaruh perhatian mereka pada tugas, struktur, dan
kekuasaan. maka para ahli human relation ini menekankan pada dimensi
manusianya. Organisasi dipandang sebagai suatu sistem sosial sebagaimana
dikembangkan oleh para sosiolog dalam menawarkan bentuk dan desain organisasi
(Champoux, 2003), demikian juga yang diterapkan dalam teknik ekonomi. Kelompok
kerja informal diidentifikasikan sebagai sumber kontrol pekerja yang utama.
Kedua bentuk organisasi baik formal maupun informal harus diperhitungkan untuk
menjelaskan sebagaimana dan mengapa suatu organisasi berfungsi sedemikian rupa.
Penulis-penulis
tradisional memandang kekuasaan pada pemimpin dan upah sebagai motivator
primer. Sementara para ahli yang menganut paham hubungan manusiawi menekankan
pentingnya faktor-faktor psikologis dan sosial didalam membentuk tingkah laku
anggota organisasi. Kebanyakan para teoritisi hubungan manusiawi beranggapan
bahwa perencanaan manajemen dan pengambilan keputusan memberikan pengaruh
positif baik terhadap “morale” maupun produktivitas. Para manajer diingatkan
bahwa tingkah laku manusia di organisasi terdiri dari komponen rasional dan non
rasional Perasaan-perasaan, sentimen, dan nilai-nilai merupakan hal-hal yang
perlu diperhatikan oleh para manajer. Pengaruh human relation begitu pesat,
sehingga muncul latihan-latihan manajemen di bidang industri dan pemerintah
yang memuat program motivasi, “morale” kepemimpinan, komunikasi antar pribadi,
keterampilan memberikan penyuluhan, dan dinamika kelompok. Tegasnya
manajer-manajer lebih disadarkan pada pentingnya dimensi monusia.
Walaupun
demikian, gerakan human relation ini juga tidak terlepas dari kritik-kritik
terutama yang datang dari lapangan industri. Para ahli human relation dianggap
terlalu lunak tertadap para pekerja, menekankan pada usaha yang bersifat
memanipulasi para bawahan, tidak mengindahkan pengaruh yang muncul dari
perserikatan-perserikatan, dan teknologi yang digunakan organisasi.
Para
pendukung modern menolak penggunaan istilah human relations. Mereka sebaliknya
menamakan diri dengan istilah behavioral scientists (ilmuwan tingkah
laku manusia), psikolog organisasi, teoritisi organisasi. dan para ahli
pengembangan organisasi. Di antara sekian banyaknya para ahli yang mendukung
antara lain: Douglas Mc gregor, Rensis Likert, Frederick Herzberg, Warren
Bennis dan Chris Argyris (dalam Burhanuddin, 1994; Yukl, 2002).
Meskipun
masing-masing ahli tersebut memberikan dukungan mereka secara unik bagi
pendekatan behavioral science namun terdapat kesatuan dan konsistensi tema di
antara pandangan mereka. Mereka menunjukkan suatu pandangan yang optimis
terhadap hakikat manusia. Mereka juga mempercayai adanya kemuliaan dasar yang
dimiliki manusia. Lebih jauh lagi, bahwa prestasi kerja dapat dicapai melalui
bimbingan dan pengawasan secara mandiri, bukan melalui birokrasi yang kaku.
Dengan demikian, tindakan job enrichment akan lebih efektif ketimbang model
pembagian kerja/pembatasan tugas yang sempit. Motivasi positif, kepemimpinan
suportif, dan metode-metode supervisi kelompok lebih dipentingkan. Mereka juga
berpendirian bahwa iklim organisasi yang layak adalah suatu iklim dimana semua
anggota kelompok dan manajer lebih bersikap terbuka, tulus dan saling
mempercayai. Kerja sama dan teamwork lebih baik daripada sistem kompetisi antar
pribadi yang tidak sehat, dan umumnya bersifat merusak seperti kebanyakan kita
saksikan di organisasi-organisasi tidak terkecuali lembaga pendidikan semacam
sekolah.
3. System Aproach
Pendekatan
ketiga dalam menganalisis organisasi adalah dengan menerapkan konsep sistem.
Teori sistem sudah populer sejak beberapa dasawarsa yang lalu karena kemampuannya
dalam menyuguhkan suatu model sistem universal yang mencakup berbagai bidang
kehidupan: fisik, biologis, sosial, dan fenomena tingkah laku manusia. Para
teoritisi mencoba menemukan generalisasi-generalisasi yang membantu dalam
menjelaskan bagaimana berfungsinya segenap kesatuan dan proses.
Seperti
telah disinggung sebelumnya, para teoritisi organisasi sebenamya memperlakukan
organisasi itu sebagai suatu sistem. Sistem adalah suatu keseluruhan yang
terorganisir, terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan
bergantungan satu sarna lain. Ada beberapa konsep penting mengenai penerapan
sistem terhadap organisasi, yaitu:
- Organisasi manusia lebih bercirikan sistem terbuka, yang-berarti berinteraksi dengan berbagai unsur yang ada di lingkungan.
- Organisasi cenderung mengarah kepada suatu dinamika atau keseimbangan yang bergerak (moving equilibrium). Anggota-anggota organisasi berusaha mempertahankan dan memelihara organisasi agar tetap hidup. Mereka mereaksi segenap perubahan dan kekuatan-kekuatan baik yang ada di luar maupun dalam organisasi itu sendiri guna menemukan keadaan baru agar tetap seimbang.
- Untuk menjaga keseimbangan sistem organisasi, maka dikelola segenap informasi dari rangkaian kegiatan yang dapat memberikan umpan balik penyempurnaan setiap penyimpangan.
- Organisasi sebenarnya bagian dari hirarkhi sistem yang terdiri dari divisi, departemen, seksi-seksi dan kelompok individu. Atau tegasnya, organisasi tertentu bisa merupakan bagian atau sub dari sistem yang lebih besar.
- Ketergantungan adalah merupakan konsep kunci bagi teori sistem. Diterapkan dalam organisasi, berarti didalamnya terdiri dari komponen-komponen yang saling bergantungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
- Konsep holism dalam memahami organisasi menunjukkan bahwa keseluruhan suatu struktur atau kesatuan adalah lebih dari sekedar kumpulan bagian-bagian. Konsep ini melandasi perlunya tindakan terpadu atau kompak (sinergy), yang berkaitan dengan kemampuan komponen-komponen organisasi untuk mencapai sasaran bersama. Tindakan bersama diayakini dapat melebihi hasil yang dicapai , dibandingkan secara perorangan.
Konsep
sistem menolong kita dalam mendiagnosa hubungan yang saling berinteraksi di
antara tugas/kegiatan, teknologi, lingkungan dan anggota organisasi. Para
praktisi menerapkan konsep sistem dalam merancang, membangun, mengoperasikan
sistem info manajemen dan proses automasi. Lebih jauh lagi penggunaannya
dilihat pada rancangan-rancangan organisasi matriks dan proyek.
Berbeda dengan
model-model organisasi klasik, pendekatan sistem menunjukkan bahwa para manajer
sesungguhnya beroperasi dalam situasi yang mudah berubah, dinamis, dan sering
tidak menentu. Mereka pada umumnya tidak berada dalam kontrol sepenuhnya
(terkendali) terhadap situasi-situasi, dan harus berusaha menyesuaikan
kegiatan/tindakan, mencapai kemajuan ke arah tujuan yang ditetapkan, di samping
menyadari bahwa hasil-hasil yang akan diperoleh itu juga dipengaruhi oleh
banyak faktor dan kekuatan.
4. Contingency
Sebelumnya
para pakar memandang,
bahwa prinsip-prinsip organisasi dan manajemen telah muncul secara universal.
Namun, penelitian empiris yang dilaksanakan selama dua puluh tahun terakhir ini
membuktikan bahwa rancangan organisasi secara optimal bergantung pada banyak
faktor, baik yang ada di dalam maupun luar organisasi. Oleh karena itu,
hasil-hasil pemikiran kontemporer sesungguhnya menganjurkan pendekatan
kontigensi ini dalam mendesain suatu organisasi. Dan ini membutuhkan suatu
tindakan penilaian terhadap banyak kekuatan atau pendorong yang saling
berinteraksi.
Organisasi
menurut pandangan kontigensi ini bukanlah beroperasi dalam suasana vacum,
melainkan berada dalam situasi yang lebih kompleks dan menghadapi banyak faktor
baik yang bersifat mendorong maupun menghambat yang kesemuanya harus
dipertimbangkan secara matang, guna kesuksesan organisasi itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar